Jangan Salah Pilih! Ternyata Tidak Semua Salmon DNA Sama, Ini Bedanya!
Salmon DNA masih terus meramaikan dunia kecantikan setiap harinya. Tapi jangan keliru, kalau semua Salmon DNA itu sama lho? Yuk cari tahu lebih jelas lagi?
Popularitas Salmon DNA memang semakin meningkat di kalangan beauty enthusiast yang mencari perawatan untuk kulit lebih kenyal dan awet muda. Namun, sebelum mencoba bahan ini, penting untuk memahami cara kerja, manfaat, hingga hal-hal yang perlu diperhatikan agar sesuai dengan kebutuhan kulit.
Berasal dari fragmen DNA salmon yang telah dimurnikan, kandungan ini dikenal dapat mendukung perbaikan skin barrier, meningkatkan elastisitas kulit, serta membuat wajah tampak lebih sehat dan glowing.
Treatment Salmon DNA jadi primadona untuk atasi bekas jerawat, pori besar, hingga penuaan dini. Tapi banyak pasien mengeluh hasilnya beda-beda, padahal namanya sama-sama Salmon DNA. Apakah semua treatment Salmon DNA itu sama? Pertanyaan ini dijawab langsung oleh dr. Fairlady Hosana dari Carla Skin Clinic Mall Taman Anggrek.
“Tidak, perbedaan panjang rantai dan zat lain yang menyertai fragmen salmon tersebut. Kesamaan hanya pada bahan dasarnya saja yaitu, Salmon DNA," tegas dr. Fairlady.
Salmon DNA adalah DNA yang diisolasi dan dimurnikan dari sumber salmon, sering kali dari jaringan reproduksinya. Setelah diproses, bahan tersebut terdiri atas fragmen DNA dengan distribusi panjang dan berat molekul tertentu. Tujuannya sama, yaitu memperbaiki kualitas kulit. Namun setelah itu, formulasi dan cara kerjanya bisa sangat berbeda.
Mengapa Formula dan Panjang Rantai DNA Bisa Berbeda?
Inilah kunci yang membuat hasil tidak sama, dimana untuk membedakan produk yang bagus dan tidak, ada 5 parameter yang harus dicek dan tidak bisa hanya disimpulkan dari nama molekul:
- Pertama, DNA purity dan residu kontaminan. Nilai kadar DNA, protein residu, RNA, serta residu proses. Untuk produk injeksi, endotoksin dan kontaminasi mikroba harus dikendalikan ketat.
- Kedua, distribusi berat molekul. Ini penting untuk membedakan karakteristik PN dan PDRN. Rantai yang lebih panjang dapat memengaruhi viskoelastisitas dan perilaku material di jaringan.
- Ketiga, integritas DNA setelah proses produksi. Pemanasan, gaya geser saat pencampuran, proses sterilisasi, dan penyimpanan dapat memengaruhi panjang rantai DNA.
- Keempat, formulasi dan eksipien. Konsentrasi DNA, pH, osmolalitas, viskositas, serta bahan tambahan seperti hyaluronic acid (HA) dapat memengaruhi sifat produk dan tolerabilitas lokal.
- Kelima, sterilitas, stabilitas, dan konsistensi batch. Produk perlu memiliki pengujian yang sesuai untuk sterilitas, endotoksin, dan konsistensi antar batch.
Untuk PN yang diproses dengan HPT, karakteristik kemurnian dan distribusi molekul ditentukan oleh proses produksinya. PN menarik untuk skin quality, hidrasi dermal, dan tekstur melalui sifat polimernya. Sedangkan PDRN mempunyai dasar mekanistik yang kuat untuk dukungan perbaikan jaringan melalui penelitian A2A dan nucleotide salvage.
Sebagai contoh, formulasi RDNA yang digunakan di Carla Skin Clinic menggunakan teknologi DNA salmon Prancis konsentrasi tinggi yang memiliki komposisi 7 lapisan DNA salmon. Formulanya menggabungkan PDRN, Growth Factor (EGF, FGF, peptide complex), L-ascorbic acid untuk toning, arginine untuk glowing, carnitine untuk lipolisis, dan hyaluronic acid untuk hydrating dan filling.
Formulasi ini memiliki kemurnian tinggi yang dirancang untuk bekerja langsung di lapisan dermis, berbeda dengan skincare yang mencantumkan 1.000-10.000 ppm yang hanya bekerja di lapisan epidermis luar.
Bagaimana Dokter Memilih Treatment Sesuai Kondisi Kulit?
Untuk memilih treatment yang cocok untuk pasien, tidak bisa disamaratakan. Beda masalah kulit, bisa memakai jenis fragmen salmon yang berbeda. Untuk jerawat aktif yang lebih dari 20 papul tidak dianjurkan.
Untuk kulit sensitif, RDNA justru bisa membantu memperbaiki skin barrier yang bisa mengurangi kemerahan selama pemberiannya tidak dengan micro needling. Untuk anti aging murni, PN lebih disarankan. Untuk bekas jerawat, PDRN lebih disarankan.
“PDRN lebih disarankan jika keluhannya jerawat yang kurang dari 20 papul, acne scar, pori-pori besar, dark spot, tanda aging seperti fine line, wrinkle dan kulit mulai kendur, membantu penyembuhan setelah laser atau thread lift, serta penipisan rambut yang bukan karena hormon,” jelas dokter cantik ini.
Untuk jerawat aktif yang lebih dari 20 papul tidak dianjurkan. Untuk kulit sensitif, RDNA justru bisa membantu memperbaiki skin barrier yang bisa mengurangi kemerahan selama pemberiannya tidak dengan micro needling. Untuk anti aging murni, PN lebih disarankan. Untuk bekas jerawat, PDRN lebih disarankan.
Hasil tidak instan. Tergantung masalah kulit masing-masing pasien, biasanya setelah treatment pertama hasil bisa dilihat dalam 3-4 minggu. Anjuran setiap 2 minggu selama 10x, hasil bertahan minimal 3 bulan setelahnya. Namun untuk scar dan jerawat, hasil bisa permanen selama tidak timbul jerawat baru tergantung faktor penyebab.
Soal kenyamanan, untuk rasa sakit bisa dibuat jauh lebih nyaman dengan anestesi oles yang lebih lama dan tebal atau ditambah anestesi suntik blok saraf. Salmon tidak mengubah ekspresi saat tertawa dan bentuk muka karena yang diperbaiki adalah kualitas kulit keseluruhan.
"Kenali isi salmon yang akan digunakan sesuai kondisi kulit, tujuan terapi, dan cara pemberian yang tepat untuk masalah kulit yang dimiliki," pesan dr. Fairlady.
Karena hasilnya sangat tergantung pada formulasi dan kondisi kulit, konsultasi adalah kunci. Cara paling aman menurut beliau adalah melihat hasil jurnal penelitian dan cek lembaga yang meng-approve keamanannya.
(Galuh/24102026)
⚡ Ingin konsultasi langsung dengan dokter kulit?
Booking konsultasi GRATIS di Carla Skin Clinic!
Booking Sekarang →