Hiperpigmentasi vs Melasma: Apa Bedanya dan Mengapa Berbeda Pula Cara Merawatnya?
Hiperpigmentasi vs Melasma: Apa Bedanya dan Mengapa Berbeda Pula Cara Merawatnya?
Tidak semua noda gelap di wajah adalah melasma. Mengenali jenis pigmentasi, penyebab, dan karakteristiknya menjadi langkah awal untuk menentukan perawatan kulit yang tepat.
Jakarta, Indonesia - Noda gelap di wajah sering kali disebut dengan istilah yang sama: flek. Tidak jarang, ketika melihat bercak kecokelatan di pipi atau dahi, kita langsung menganggapnya sebagai melasma.
Padahal, melasma dan hiperpigmentasi adalah dua istilah yang tidak sepenuhnya setara.
Hiperpigmentasi merupakan istilah umum untuk kondisi ketika warna kulit menjadi lebih gelap akibat peningkatan atau penumpukan melanin. Sementara itu, melasma merupakan salah satu bentuk gangguan hiperpigmentasi yang memiliki pola, faktor pencetus, dan karakteristik tertentu.
Karena penyebabnya bisa berbeda, cara merawatnya pun tidak selalu sama. Lalu, bagaimana membedakannya?
Hiperpigmentasi Itu Istilah yang Lebih Luas
Sederhananya, hiperpigmentasi terjadi ketika area tertentu pada kulit menghasilkan lebih banyak melanin dibandingkan area di sekitarnya sehingga warnanya terlihat lebih gelap.
Kondisi ini dapat muncul dalam berbagai bentuk. Salah satunya adalah bekas jerawat, yang dapat meninggalkan noda kecokelatan setelah peradangan mereda. Luka atau iritasi pada kulit juga dapat memicu perubahan warna. Paparan sinar matahari dan beberapa kondisi kulit seperti eksim atau psoriasis juga dapat menyebabkan hiperpigmentasi.
Penyebab hiperpigmentasi cukup beragam, tetapi peradangan menjadi salah satu faktor yang sering berperan, termasuk bekas luka dan bekas jerawat.
Melasma Punya Pola yang Lebih Khas
Berbeda dengan hiperpigmentasi yang dapat muncul dalam berbagai bentuk, melasma biasanya memiliki pola yang lebih khas.
Melasma umumnya terlihat sebagai bercak berwarna cokelat muda hingga cokelat keabu-abuan atau lebih gelap. Batasnya cenderung tidak terlalu tegas dan sering muncul secara simetris di kedua sisi wajah, terutama pada pipi, dahi, hidung, serta area di atas bibir.
Menurut dr. Tiffany Dwi Yanti, dokter spesialis kulit di Carla Skin Clinic, klinik kecantikan di Jakarta Barat, melasma merupakan kelainan hiperpigmentasi kronis yang penyebabnya bersifat multifaktorial. Artinya, tidak ada satu faktor tunggal yang dapat disebut sebagai penyebab melasma.
Faktor hormonal bisa menjadi salah satu penyebab melasma, seperti kehamilan maupun penggunaan kontrasepsi hormonal. Namun, faktor lain seperti paparan sinar ultraviolet, visible light, panas, usia, kecenderungan genetik, dan kondisi skin barrier juga dapat ikut memengaruhi.
Hubungan Skin Barrier dengan Melasma
Ketika skin barrier mengalami gangguan, kulit dapat menjadi lebih sensitif terhadap berbagai faktor eksternal. Menurut dr. Tiffany, kerusakan skin barrier dapat meningkatkan sensitivitas kulit terhadap paparan sinar matahari maupun visible light. Kondisi tersebut kemudian dapat membuat melanosit—sel yang menghasilkan melanin—menjadi lebih aktif.
Hal ini juga menjelaskan mengapa penggunaan skincare yang tidak sesuai dapat menjadi masalah.
Namun, penting untuk membedakan antara penyebab utama dan faktor pencetus. Produk skincare yang menyebabkan iritasi atau inflamasi tidak secara otomatis menjadi penyebab tunggal melasma. Tetapi, pada kulit yang memang memiliki kecenderungan mengalami melasma, iritasi dan peradangan dapat memperburuk kondisi pigmentasi.
Karena itu, kondisi skin barrier juga menjadi bagian dari bagaimana kulit merespons lingkungan di sekitarnya
Mengapa Melasma Banyak Ditemukan di Indonesia?
Melasma bukan kondisi yang asing bagi masyarakat Indonesia.
Seperti dikatakan dr. Tiffany, melasma cukup sering ditemukan di Indonesia, terutama karena tingginya paparan sinar matahari sepanjang tahun. Kondisi ini juga lebih banyak ditemukan pada perempuan, khususnya usia produktif sekitar 20–50 tahun.
Warna kulit juga turut berpengaruh. Individu dengan warna kulit sedang hingga lebih gelap memiliki risiko lebih tinggi mengalami melasma dibandingkan mereka dengan warna kulit sangat terang.
Karena itu, penting untuk melindungi kulit dari paparan matahari, bahkan sebelum noda terlihat. Pemakaian sunscreen setiap hari merupakan satu keharusan, terutama bagi mereka yang memiliki kecenderungan mengalami pigmentasi.
Beberapa Jenis Melasma
Salah satu alasan mengapa melasma membutuhkan pendekatan yang lebih serius adalah karena kondisi ini sendiri dapat memiliki karakteristik yang berbeda.
Secara umum, melasma dapat dibedakan berdasarkan lokasi pigmen menjadi epidermal, dermal, dan mixed melasma. Pada epidermal melasma, pigmen lebih banyak berada di lapisan epidermis. Pada dermal melasma, pigmen berada lebih dalam, sementara mixed melasma menunjukkan karakteristik keduanya.
Perbedaan ini penting karena kedalaman pigmen dapat memengaruhi respons terhadap perawatan.
Inilah salah satu alasan mengapa melihat noda dari permukaan saja tidak selalu cukup untuk menentukan jenis melasma atau treatment yang tepat.
Mengapa Melasma Membutuhkan Perawatan Jangka Panjang?
Melasma merupakan kondisi yang dapat mengalami perbaikan, tetapi juga memiliki kecenderungan untuk kambuh.
Dr. Tiffany menjelaskan bahwa penanganan melasma idealnya dilakukan secara komprehensif, dengan menggabungkan edukasi mengenai faktor pencetus, perlindungan terhadap UV dan visible light, perawatan topikal, serta prosedur tertentu bila diperlukan.
Pendekatan yang tepat juga perlu mempertimbangkan kondisi masing-masing kulit. Tidak semua orang dengan noda kecokelatan membutuhkan treatment yang sama, dan penggunaan produk secara berlebihan justru dapat memicu iritasi yang berpotensi memperburuk pigmentasi.
Karena itu, ketika pigmentasi tidak kunjung membaik atau pola nodanya menyerupai melasma, pemeriksaan oleh dokter spesialis kulit dapat membantu memastikan diagnosis sebelum menentukan perawatan.
Jadi, Hiperpigmentasi atau Melasma?
Keduanya sama-sama berkaitan dengan peningkatan pigmentasi kulit, tetapi hiperpigmentasi adalah istilah yang lebih luas, sementara melasma merupakan kondisi dengan karakteristik dan faktor pencetus yang lebih spesifik.
Hiperpigmentasi dapat muncul akibat berbagai kondisi, termasuk peradangan dan bekas jerawat. Melasma, di sisi lain, memiliki pola yang khas dan dipengaruhi oleh kombinasi faktor hormonal, paparan cahaya, panas, genetik, usia, serta kondisi skin barrier.
Memahami perbedaannya penting karena perawatan pigmentasi bukan sekadar soal mencari produk yang dapat membuat kulit terlihat lebih cerah.
💡 Ingin konsultasi langsung dengan dokter kulit?
Booking konsultasi GRATIS di Carla Skin Clinic!
Booking Sekarang →