Journals • Google Docs

Scientific Journal Series #2: Memahami Acne Vulgaris: Mekanisme Terjadinya, Faktor Penyebab, Bukti Ilmiah, dan Pendekatan Penanganan

02 October 2026

Scientific Journal Series #2: Memahami Acne Vulgaris: Mekanisme Terjadinya, Faktor Penyebab, Bukti Ilmiah, dan Pendekatan Penanganan

Daftar Isi

    ACNE

    Memahami Acne Vulgaris: Mekanisme Terjadinya, Faktor Penyebab, Bukti Ilmiah, dan Pendekatan Penanganan

    Carla Skin ClinicSeri Edukasi Ilmiah

    Tanggal penelitian literatur: 2 Oktober 2026

    Abstract

    Acne vulgaris merupakan penyakit inflamasi kronis pada unit pilosebasea yang terutama mengenai wajah, dada, dan punggung. Acne sering dianggap hanya sebagai masalah kulit berminyak atau akibat bakteri, padahal proses terjadinya jauh lebih kompleks. Produksi dan perubahan komposisi sebum, gangguan proses keratinisasi folikel, perubahan mikrobioma kulit termasuk Cutibacterium acnes, respons sistem imun, faktor hormonal, genetik, serta faktor lingkungan dapat saling berinteraksi dalam perkembangan acne.

    Acne merupakan salah satu penyakit kulit yang paling umum di dunia. Analisis Global Burden of Disease memperkirakan terdapat sekitar 231,2 juta kasus acne yang sedang berlangsung secara global pada tahun 2019. Acne juga dapat menetap hingga usia dewasa dan dapat memberikan dampak terhadap kualitas hidup serta kondisi psikososial seseorang.

    Pendekatan modern terhadap acne tidak hanya berfokus pada satu penyebab. Pedoman klinis dan tinjauan sistematis mendukung penggunaan terapi yang menargetkan beberapa mekanisme penyakit, termasuk retinoid topikal, benzoyl peroxide, antibiotik topikal dalam kondisi tertentu, antibiotik sistemik pada indikasi yang sesuai, serta isotretinoin untuk kondisi tertentu yang lebih berat.

    Berbagai terapi berbasis cahaya, fotodinamik, laser, pengelupasan kimia, dan teknologi berbasis energi juga terus diteliti. Beberapa menunjukkan potensi klinis, tetapi tingkat kepastian bukti dan standardisasi protokolnya belum selalu setara dengan terapi farmakologis yang telah mapan.

    Dengan demikian, acne sebaiknya dipahami sebagai penyakit multifaktorial dan kronis. Penanganan perlu mempertimbangkan jenis lesi, tingkat keparahan, lokasi, risiko terbentuknya jaringan parut, usia, faktor hormonal, riwayat terapi, toleransi pasien, serta dampak acne terhadap kualitas hidup.

    1. PENDAHULUAN

    Acne vulgaris adalah penyakit inflamasi kronis pada unit pilosebasea, yaitu struktur kulit yang terdiri dari folikel rambut dan kelenjar sebaceous.

    Acne paling sering muncul pada masa remaja dan dewasa muda, tetapi kondisi ini tidak terbatas pada kelompok usia tersebut. Acne dapat menetap hingga usia dewasa atau bahkan muncul pertama kali pada usia dewasa.

    Menurut analisis Global Burden of Disease, pada tahun 2019 diperkirakan terdapat:

    • sekitar 117,4 juta kasus baru acne secara global;
    • sekitar 231,2 juta kasus acne yang sedang berlangsung;
    • sekitar 5 juta DALYs atau tahun kehidupan yang disesuaikan dengan disabilitas.

    Beban acne secara global juga meningkat dibandingkan tahun 1990. [3]

    Acne bukan hanya masalah kosmetik.

    Pada sebagian pasien, acne dapat berhubungan dengan:

    • peradangan kulit yang menetap;
    • kemerahan setelah peradangan;
    • hiperpigmentasi pascaperadangan;
    • jaringan parut akibat acne;
    • perubahan citra diri;
    • penurunan kualitas hidup;
    • kecemasan;
    • depresi;
    • tekanan psikososial.

    Tinjauan sistematis yang diterbitkan pada 2026 dan mencakup 101 penelitian menunjukkan bahwa acne mempunyai dampak yang bermakna terhadap kualitas hidup terkait kesehatan dan berbagai aspek psikososial. [8]

    Karena itu, keberhasilan penanganan acne tidak hanya dinilai dari berkurangnya jumlah jerawat, tetapi juga dari pengendalian peradangan, pencegahan jaringan parut, toleransi terhadap terapi, kualitas hidup, dan kebutuhan individual pasien.

    2. DEFINISI DAN LATAR BELAKANG ILMIAH

    2.1 Apa itu Acne?

    Acne vulgaris merupakan penyakit inflamasi kronis pada unit pilosebasea yang ditandai oleh berbagai jenis lesi kulit.

    Lesi tersebut dapat berupa:

    • komedo terbuka;
    • komedo tertutup;
    • papul;
    • pustul;
    • nodul;
    • lesi yang lebih dalam pada acne berat.

    Acne dapat diklasifikasikan berdasarkan:

    1. jenis lesi;
    2. apakah lesi bersifat tidak meradang atau meradang;
    3. tingkat keparahan;
    4. lokasi;
    5. keberadaan jaringan parut;
    6. usia pasien;
    7. respons terhadap terapi sebelumnya. [7]

    2.2 Acne Bukan Sekadar Kulit Berminyak

    Sebum memang mempunyai peran penting dalam perkembangan acne, tetapi produksi minyak berlebih saja tidak cukup untuk menjelaskan seluruh proses penyakit.

    Secara klasik, terdapat empat proses utama yang berperan:

    1. peningkatan dan perubahan sebum;
    2. gangguan keratinisasi folikel;
    3. perubahan mikrobioma dan aktivitas Cutibacterium acnes;
    4. respons peradangan dan sistem imun.

    Keempat proses tersebut saling berinteraksi.

    Hormon androgen dapat meningkatkan aktivitas kelenjar sebaceous dan produksi sebum. Pada saat yang sama, perubahan proses keratinisasi dapat menyebabkan penyumbatan folikel dan pembentukan mikrokomedo. Lingkungan folikel tersebut kemudian dapat memengaruhi mikrobioma serta respons sistem imun. [9][10]

    2.3 Acne Berbeda dengan Jaringan Parut Acne

    Acne aktif dan jaringan parut akibat acne merupakan dua kondisi yang berbeda.

    Acne

    Merupakan penyakit aktif pada unit pilosebasea.

    Jaringan parut akibat acne

    Merupakan perubahan struktur jaringan yang dapat terjadi setelah proses peradangan acne.

    Jaringan parut dapat berupa:

    • jaringan parut atrofi;
    • jaringan parut hipertrofik;
    • keloid.

    Oleh karena itu, pengendalian acne aktif dan penanganan jaringan parut merupakan dua tujuan klinis yang berkaitan tetapi tidak sama.

    3. MEKANISME BIOLOGIS DAN FISIOLOGIS

    3.1 Sebum

    Kelenjar sebaceous menghasilkan sebum yang terdiri dari berbagai jenis lipid, termasuk:

    • trigliserida;
    • asam lemak;
    • squalene;
    • kolesterol;
    • ester kolesterol;
    • wax ester.

    Sebum mempunyai fungsi fisiologis normal, termasuk membantu fungsi pelindung kulit dan pertahanan terhadap mikroorganisme.

    Namun, perubahan jumlah maupun komposisi sebum dapat berkontribusi terhadap perkembangan acne. [10]

    Istilah ilmiah:

    Seborrhea / hyperseborrhea

    Penjelasan sederhana:

    Produksi sebum yang berlebihan dapat menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan acne. Namun, minyak berlebih bukan satu-satunya penyebab acne.

    3.2 Hormon Androgen

    Androgen berperan dalam perkembangan acne melalui pengaruhnya terhadap sel kelenjar sebaceous.

    Androgen dapat:

    • meningkatkan aktivitas kelenjar sebaceous;
    • meningkatkan produksi sebum;
    • memengaruhi lingkungan folikel;
    • berkontribusi terhadap acne pada individu yang rentan. [11]

    Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa perubahan hormonal sangat relevan pada acne masa pubertas dan sebagian kasus acne pada perempuan dewasa.

    Namun, acne tidak selalu berarti pasien mengalami gangguan hormon sistemik.

    Sebagian perempuan dewasa dengan acne dapat mempunyai kadar androgen dalam darah yang tidak menunjukkan kelainan yang jelas. [12][13]

    3.3 Gangguan Keratinisasi Folikel

    Pada acne, proses pembentukan dan pelepasan sel kulit di dalam folikel dapat mengalami perubahan.

    Keratinocytes dapat mengalami:

    • peningkatan proliferasi;
    • perubahan proses pelepasan sel;
    • penumpukan keratin.

    Proses tersebut dapat menyebabkan pembentukan sumbatan di dalam folikel.

    Secara sederhana:

    Perubahan keratinisasi → mikrokomedo → komedo → lesi yang meradang

    Mikrokomedo merupakan salah satu tahap awal perkembangan acne dan belum tentu terlihat secara langsung.

    Penjelasan sederhana:

    Sel kulit di dalam folikel tidak terlepas secara normal sehingga dapat bercampur dengan sebum dan menyebabkan penyumbatan.

    3.4 Cutibacterium acnes

    Nama lama yang masih sering ditemukan dalam literatur adalah Propionibacterium acnes.

    Saat ini organisme tersebut dikenal sebagai:

    Cutibacterium acnes

    C. acnes merupakan bagian normal dari mikrobioma kulit dan tidak tepat jika selalu dianggap sebagai organisme yang harus dihilangkan.

    Konsep ilmiah modern menunjukkan bahwa masalahnya bukan hanya mengenai jumlah bakteri.

    Hal-hal yang dapat berperan meliputi:

    • keragaman mikrobioma;
    • komposisi strain;
    • aktivitas bakteri;
    • lingkungan folikel;
    • respons sistem imun tubuh. [14][15]

    Penjelasan sederhana:

    C. acnes memang merupakan salah satu penghuni normal kulit. Pada acne, interaksi antara mikroorganisme tertentu, lingkungan folikel, dan sistem imun dapat memperkuat proses peradangan.

    3.5 Peradangan

    Peradangan merupakan salah satu komponen utama acne.

    C. acnes dan perubahan lingkungan folikel dapat berinteraksi dengan sistem imun bawaan.

    Beberapa jalur biologis yang telah diteliti meliputi:

    • Toll-like receptors;
    • NF-ÎşB;
    • sitokin;
    • mediator peradangan;
    • aktivasi sistem imun bawaan.

    Literatur modern semakin menunjukkan bahwa acne merupakan penyakit inflamasi yang kompleks, bukan hanya kondisi akibat keberadaan bakteri. [14][16]

    4. KOMPONEN AKTIF DAN TARGET TERAPI

    Komponen / PendekatanFungsi IlmiahTarget UtamaRelevansi Klinis
    Retinoid topikalMembantu menormalisasi keratinisasi dan mempunyai efek komedolitik serta anti-inflamasiUnit folikelKomedo dan acne meradang
    Benzoyl peroxideAktivitas antimikroba dan anti-inflamasiLingkungan folikelAcne meradang maupun tidak meradang
    Antibiotik topikalEfek antimikroba dan anti-inflamasiC. acnes dan peradanganAcne meradang dalam kondisi tertentu
    Tetrasiklin oralEfek anti-inflamasi dan antimikrobaPeradangan dan unit folikelAcne sedang hingga berat
    IsotretinoinMenargetkan beberapa mekanisme acne termasuk aktivitas kelenjar sebaceousKelenjar sebaceous dan unit folikelAcne berat atau kondisi tertentu yang tidak merespons terapi
    Asam azelaatMempunyai efek terhadap keratinisasi, mikroorganisme dan peradanganEpidermis dan folikelAcne dan beberapa kondisi pigmentasi pascaperadangan
    Asam salisilatMembantu proses pengelupasan sel kulit dan membuka sumbatanLapisan tanduk dan folikelAcne ringan dan perawatan tambahan
    ClascoteroneMenghambat reseptor androgen secara topikalJalur androgen pada kulitKondisi acne dengan komponen androgen
    Terapi hormonal tertentuMengurangi pengaruh androgen pada kondisi tertentuJalur hormonal dan kelenjar sebaceousSebagian acne pada perempuan dewasa
    Terapi berbasis cahayaEfek bergantung pada jenis cahaya dan mekanisme terapinyaKelenjar sebaceous dan proses peradanganTerapi tambahan yang masih berkembang
    Terapi fotodinamikMenggunakan fotosensitizer dan cahaya untuk menghasilkan efek fotokimiaFolikel, kelenjar sebaceous dan peradanganPilihan prosedural yang masih berkembang

    Catatan: Tingkat bukti ilmiah untuk setiap pendekatan tidak sama. Pedoman American Academy of Dermatology 2024 memberikan rekomendasi kuat untuk benzoyl peroxide, retinoid topikal, antibiotik topikal, doxycycline dan isotretinoin pada kondisi tertentu. [1]

    5. KONDISI KULIT DAN APLIKASI KLINIS

    KondisiMekanisme yang RelevanPendekatan yang Mungkin RelevanTingkat Bukti
    Acne komedonalGangguan keratinisasi folikelRetinoid topikalLebih kuat
    Acne ringan yang meradangPeradangan dan gangguan folikelRetinoid dan benzoyl peroxideLebih kuat
    Acne sedangPeradangan dan gangguan folikelKombinasi terapi topikal ± terapi sistemikLebih kuat
    Acne berat/nodularPeradangan yang lebih dalam dan risiko jaringan parutTerapi sistemik, termasuk isotretinoin pada indikasi tertentuLebih kuat
    Acne pada perempuan dewasaFaktor hormonal dan peradanganPendekatan topikal, sistemik atau hormonal sesuai kondisiBervariasi
    Acne dengan risiko jaringan parutPeradangan yang menetapPengendalian acne secara dini dan tepatLebih kuat
    Acne dengan hiperpigmentasi pascaperadanganPeradangan → peningkatan pigmentasiPengendalian acne + penanganan pigmentasiBervariasi
    Acne yang sulit dikendalikanPenyebab multifaktorialEvaluasi ulang diagnosis, kepatuhan dan strategi terapiBerdasarkan evaluasi klinis
    Acne yang dipertimbangkan untuk prosedurPeradangan dan aktivitas kelenjar sebaceousCahaya, PDT, pengelupasan atau teknologi tertentuMasih berkembang

    6. BUKTI ILMIAH KLINIS

    Penelitian 1 — Pedoman American Academy of Dermatology

    Penulis: Reynolds RV, dkk.Tahun: 2024Jurnal:Journal of the American Academy of DermatologyJenis penelitian: Pedoman praktik klinis berbasis buktiMetode: Tinjauan sistematis dan metode GRADE

    Temuan utama

    Pedoman ini menghasilkan 18 rekomendasi berbasis bukti dan 5 pernyataan praktik klinis.

    Rekomendasi kuat diberikan untuk:

    • benzoyl peroxide;
    • retinoid topikal;
    • antibiotik topikal;
    • doxycycline.

    Isotretinoin juga mendapatkan rekomendasi kuat untuk acne:

    • berat;
    • dengan beban psikososial;
    • yang menyebabkan atau berhubungan dengan jaringan parut;
    • atau yang tidak merespons terapi standar. [1]

    Keterbatasan

    Pedoman bergantung pada bukti yang tersedia ketika tinjauan dilakukan dan dapat diperbarui ketika bukti baru tersedia.

    Penelitian 2 — Pembaruan Pedoman EuroGuiDerm 2026

    Penulis: Kelompok Pedoman EuroGuiDermTahun: 2026Jurnal:Journal of the European Academy of Dermatology and VenereologyJenis penelitian: Pedoman berbasis bukti dan konsensus

    Pembaruan 2026 mengevaluasi sejumlah pertanyaan penting, termasuk:

    • isotretinoin dibandingkan antibiotik sistemik;
    • durasi penggunaan antibiotik sistemik;
    • terapi hormonal dan spironolactone;
    • terapi topikal baru seperti trifarotene dan clascoterone;
    • keamanan benzoyl peroxide;
    • pertimbangan kehamilan;
    • strategi dosis isotretinoin. [2]

    Keterbatasan

    Pedoman bukan satu penelitian klinis tunggal. Rekomendasinya bergantung pada kualitas dan hasil penelitian yang dianalisis oleh kelompok penyusun pedoman.

    Penelitian 3 — Tinjauan Sistematis dan Meta-analisis Terapi Topikal

    Penulis: Kakpovbia EE, dkk.Tahun: 2025Jurnal:Journal of the European Academy of Dermatology and VenereologyJenis penelitian: Tinjauan sistematis dan meta-analisis jaringan terhadap uji klinis teracakPeserta: 33.472 peserta dari 35 RCT

    Temuan utama

    Kombinasi beberapa terapi topikal secara umum menghasilkan penurunan lesi yang lebih besar dibandingkan plasebo.

    Kombinasi yang melibatkan adapalene/benzoyl peroxide termasuk pendekatan yang menunjukkan efektivitas bermakna dalam penelitian yang dianalisis. [17]

    Keterbatasan

    Penelitian yang dianalisis mempunyai perbedaan dalam:

    • regimen terapi;
    • populasi;
    • durasi;
    • metode pengukuran hasil.

    Meta-analisis jaringan juga melibatkan perbandingan tidak langsung sehingga interpretasinya harus hati-hati.

    Penelitian 4 — Acne Sedang hingga Berat

    Penulis: Harper JC, dkk.Tahun: 2024Jurnal:Journal of Drugs in DermatologyJenis penelitian: Tinjauan sistematis dan meta-analisis jaringanJumlah penelitian: 85 penelitian

    Temuan utama

    Penelitian ini mengevaluasi berbagai strategi terapi untuk acne sedang hingga berat.

    Hasilnya mendukung prinsip bahwa pendekatan yang menggunakan beberapa mekanisme terapi dapat memberikan efektivitas klinis yang bermakna.

    Hal ini sesuai dengan pemahaman bahwa acne merupakan penyakit multifaktorial yang melibatkan beberapa jalur biologis secara bersamaan. [18]

    Keterbatasan

    Perbandingan antarintervensi sebagian berasal dari perbandingan tidak langsung dan terdapat perbedaan antarpenelitian.

    Penelitian 5 — Data Pasien Indonesia

    Penulis: Wiraputranto MC, Sitohang IBS, Sampurna AT, Ilyas M.Tahun: 2024Jurnal:Clinical, Cosmetic and Investigational DermatologyJenis penelitian: Penelitian klinis retrospektifPeserta: 131 pasien acne

    Temuan utama

    Setelah 12 minggu terapi standar berdasarkan pedoman praktik klinis Indonesia:

    • median lesi tidak meradang menurun dari 25 menjadi 8;
    • lesi meradang menurun dari 10 menjadi 2;
    • total lesi menurun dari 41 menjadi 10.

    Proporsi pasien dengan kategori ringan meningkat, sedangkan kategori sedang dan berat menurun. [19]

    Relevansi

    Penelitian ini mempunyai nilai khusus untuk konteks Indonesia karena dilakukan pada pasien di pusat pelayanan dermatologi di Indonesia.

    Keterbatasan

    Penelitian bersifat retrospektif sehingga tidak mempunyai kekuatan untuk menentukan hubungan sebab-akibat seperti uji klinis teracak.

    Penelitian 6 — Pola Makan dan Acne

    Jenis penelitian: Tinjauan sistematisTahun: 2022Jurnal:JAMA Dermatology

    Temuan utama

    Pola makan dengan indeks glikemik dan beban glikemik yang lebih tinggi ditemukan berhubungan dengan acne dalam sejumlah penelitian.

    Beberapa uji klinis juga memberikan dukungan terhadap kemungkinan adanya pengaruh pola makan dengan beban glikemik tinggi terhadap acne.

    Sementara itu, bukti mengenai konsumsi produk susu lebih beragam dan dapat berbeda berdasarkan populasi yang diteliti. [20]

    Interpretasi klinis

    Pola makan dapat menjadi salah satu faktor yang relevan bagi sebagian pasien, tetapi tidak tepat menyimpulkan bahwa satu jenis makanan merupakan penyebab tunggal acne.

    Penelitian 7 — Terapi Fotodinamik

    Penulis: Qureshi S, Rehan Z, Ao A, Mukovozov I.Tahun: 2025Jurnal:Journal of Cutaneous Medicine and SurgeryJenis penelitian: Tinjauan sistematisPenelitian yang dianalisis: 82 penelitian, termasuk 25 RCTJumlah peserta: sekitar 4.340 pasien

    Temuan utama

    Terapi fotodinamik menunjukkan respons klinis pada acne dalam berbagai penelitian.

    Namun, penelitian juga menekankan perlunya standardisasi protokol dan penelitian yang membandingkan terapi fotodinamik secara langsung dengan terapi acne yang sudah mapan. [5]

    Klasifikasi bukti:

    Bukti yang masih berkembang.

    Terapi fotodinamik mempunyai dasar penelitian klinis, tetapi bukti yang tersedia belum sehomogen terapi acne farmakologis yang telah mapan.

    7. APA YANG SEBENARNYA DITUNJUKKAN OLEH BUKTI ILMIAH?

    Bukti menunjukkan bahwa:

    1. Acne adalah penyakit inflamasi kronis dan multifaktorial.
    2. Sebum berperan penting, tetapi acne tidak hanya disebabkan oleh kulit berminyak.
    3. Cutibacterium acnes merupakan bagian normal dari mikrobioma kulit.
    4. Perubahan mikrobioma dan respons sistem imun dapat berkontribusi terhadap peradangan acne.
    5. Retinoid topikal dan benzoyl peroxide memiliki bukti ilmiah yang kuat.
    6. Kombinasi terapi dapat menargetkan beberapa mekanisme acne secara bersamaan.
    7. Penggunaan antibiotik perlu memperhatikan resistansi antimikroba.
    8. Isotretinoin mempunyai peran penting pada acne berat dan kondisi tertentu yang tidak merespons terapi standar.
    9. Faktor hormonal dapat berperan pada sebagian acne, khususnya pada perempuan dewasa.
    10. Acne dapat memberikan dampak psikososial yang signifikan.

    Bukti belum dapat memastikan bahwa:

    • satu terapi cocok untuk seluruh pasien acne;
    • satu jenis diet dapat menyembuhkan acne;
    • semua prosedur berbasis energi lebih efektif daripada terapi farmakologis;
    • semua pasien acne dewasa mengalami gangguan hormon;
    • menghilangkan C. acnes sepenuhnya merupakan satu-satunya tujuan terapi.

    Hal yang masih membutuhkan penelitian:

    • terapi acne yang semakin dipersonalisasi;
    • terapi yang secara khusus menargetkan mikrobioma;
    • efektivitas jangka panjang teknologi berbasis energi;
    • standardisasi terapi prosedural;
    • hubungan pola makan dan acne pada berbagai kelompok populasi;
    • prediksi respons terapi berdasarkan karakteristik biologis pasien;
    • strategi untuk mengurangi resistansi antibiotik.

    8. PERBANDINGAN PENDEKATAN TERAPI

    ParameterTerapi TopikalTerapi SistemikTerapi Berbasis Teknologi/Prosedur
    Target utamaFolikel, sebum, peradanganBerbagai jalur sistemikTarget bergantung pada teknologi
    ContohRetinoid, benzoyl peroxide, asam azelaatDoxycycline, isotretinoin, terapi hormonal tertentuPDT, cahaya, laser, teknologi energi tertentu
    Tingkat buktiRelatif kuatRelatif kuat pada indikasi tertentuBervariasi dan masih berkembang
    Peran umumAcne ringan–sedang dan pemeliharaanAcne sedang–berat atau kondisi tertentuKasus tertentu sebagai terapi tambahan
    KeterbatasanIritasi dan kepatuhanEfek samping sistemik dan kebutuhan pemantauanVariasi protokol, biaya dan toleransi
    Evaluasi dokterDiperlukanSangat pentingDiperlukan

    Catatan: Tabel ini bukan pemeringkatan efektivitas. Pilihan terapi harus disesuaikan dengan kondisi individual pasien.

    9. SIAPA YANG MUNGKIN MENDAPATKAN MANFAAT?

    Penanganan acne dapat dipertimbangkan pada individu dengan:

    • acne komedonal;
    • acne meradang;
    • acne berulang;
    • acne sedang hingga berat;
    • acne yang mempunyai risiko jaringan parut;
    • acne pada usia dewasa;
    • acne dengan dampak psikososial;
    • acne yang menetap meskipun telah melakukan perawatan dasar.

    Pada acne perempuan dewasa, perhatian khusus dapat diberikan jika terdapat:

    • siklus menstruasi tidak teratur;
    • tanda peningkatan androgen;
    • pertumbuhan rambut berlebih;
    • munculnya acne secara tiba-tiba;
    • respons yang kurang terhadap terapi.

    Namun, pemeriksaan hormonal tidak otomatis diperlukan untuk setiap pasien acne.

    Keputusan harus didasarkan pada penilaian klinis individual.

    10. SIAPA YANG MUNGKIN TIDAK SESUAI?

    Tidak semua pasien dapat menggunakan pendekatan acne yang sama.

    Pertimbangan khusus diperlukan pada:

    • kehamilan;
    • menyusui;
    • infeksi kulit aktif;
    • alergi obat;
    • penyakit sistemik tertentu;
    • kemungkinan interaksi obat;
    • dugaan gangguan hormonal;
    • riwayat reaksi berat terhadap terapi;
    • acne nodulokistik atau berat;
    • diagnosis yang belum jelas.

    Untuk terapi sistemik tertentu, khususnya isotretinoin dan terapi hormonal, keputusan harus dilakukan melalui evaluasi dokter.

    Kesesuaian terapi harus ditentukan melalui penilaian medis secara individual.

    11. EFEK SAMPING DAN KEAMANAN

    Retinoid topikal

    Reaksi yang mungkin terjadi:

    • kulit kering;
    • kemerahan;
    • iritasi;
    • pengelupasan;
    • peningkatan sensitivitas kulit.

    Benzoyl peroxide

    Reaksi yang mungkin terjadi:

    • kulit kering;
    • iritasi;
    • kemerahan;
    • sensitivitas kontak pada sebagian individu.

    Antibiotik topikal

    Penggunaan harus memperhatikan prinsip penggunaan antibiotik secara bijaksana.

    Penggunaan antibiotik topikal sebagai satu-satunya terapi secara rutin bukan pendekatan yang ideal karena adanya perhatian terhadap resistansi antimikroba. [21]

    Antibiotik sistemik

    Risiko bergantung pada jenis obat.

    Potensi masalah dapat meliputi:

    • gangguan saluran cerna;
    • sensitivitas terhadap cahaya pada obat tertentu;
    • resistansi antimikroba;
    • efek samping spesifik obat.

    Antibiotik sistemik sebaiknya digunakan secara terbatas dan berdasarkan indikasi klinis yang tepat. [1][2][22]

    Isotretinoin

    Isotretinoin merupakan terapi yang sangat efektif untuk kondisi tertentu, tetapi membutuhkan pengawasan medis.

    Potensi efek samping dan kebutuhan pemantauan dapat meliputi:

    • kekeringan kulit dan mukosa;
    • perubahan hasil pemeriksaan laboratorium tertentu;
    • risiko yang sangat serius terhadap kehamilan;
    • efek samping lain yang berkaitan dengan obat.

    Karena profil keamanan dan kebutuhan pemantauannya, isotretinoin tidak dapat diperlakukan seperti produk perawatan kulit biasa.

    Terapi berbasis teknologi dan prosedur

    Risiko bergantung pada:

    • jenis teknologi;
    • panjang gelombang;
    • energi;
    • parameter tindakan;
    • operator;
    • jenis kulit;
    • kondisi peradangan;
    • obat yang sedang digunakan;
    • faktor pasien.

    Reaksi dapat berupa:

    • kemerahan;
    • pembengkakan;
    • rasa tidak nyaman;
    • iritasi;
    • perubahan pigmentasi;
    • komplikasi lain sesuai jenis prosedur.

    12. KETERBATASAN BUKTI ILMIAH SAAT INI

    12.1 Perbedaan antarpenelitian

    Penelitian acne menggunakan:

    • klasifikasi tingkat keparahan yang berbeda;
    • protokol terapi yang berbeda;
    • durasi berbeda;
    • metode penilaian hasil yang berbeda.

    Hal ini membuat perbandingan langsung antarpenelitian menjadi lebih sulit.

    12.2 Perbedaan formulasi

    Dua produk yang mengandung bahan aktif yang sama belum tentu identik dalam:

    • konsentrasi;
    • formulasi;
    • bahan pembawa;
    • dosis;
    • frekuensi penggunaan.

    Karena itu, bukti dari satu formulasi tidak otomatis dapat diterapkan pada semua produk dengan bahan aktif yang sama.

    12.3 Durasi pemantauan

    Sebagian penelitian hanya mengikuti pasien selama beberapa minggu atau beberapa bulan.

    Data jangka panjang mengenai kekambuhan dan keamanan masih diperlukan untuk sejumlah pendekatan.

    12.4 Bukti terapi prosedural

    Bukti untuk laser, cahaya, pengelupasan kimia dan terapi fotodinamik masih menunjukkan variasi protokol yang cukup besar.

    Tinjauan sistematis menunjukkan adanya potensi manfaat, tetapi standardisasi protokol masih menjadi kebutuhan penelitian. [5][6]

    12.5 Pendanaan industri

    Sebagian penelitian dermatologi melibatkan perusahaan farmasi atau produsen perangkat medis.

    Keterlibatan industri tidak secara otomatis berarti hasil penelitian tidak valid. Namun, sumber pendanaan tetap perlu diperhatikan ketika menilai keseluruhan bukti.

    13. INTERPRETASI KLINIS PRAKTIS

    Jika masalah utama adalah:

    Acne Komedonal

    Bukti yang relevan:

    Gangguan keratinisasi folikel merupakan salah satu mekanisme penting.

    Pendekatan yang mungkin dipertimbangkan:

    Retinoid topikal merupakan salah satu pendekatan dengan bukti yang kuat.

    Hal penting:

    Iritasi dan kepatuhan terhadap penggunaan perlu diperhatikan.

    Jika masalah utama adalah:

    Acne yang Meradang

    Bukti yang relevan:

    Peradangan merupakan komponen utama acne.

    Pendekatan yang mungkin dipertimbangkan:

    Kombinasi terapi topikal dengan mekanisme berbeda dapat digunakan sesuai kondisi.

    Hal penting:

    Penggunaan antibiotik perlu dilakukan secara bijaksana.

    Jika masalah utama adalah:

    Acne Sedang hingga Berat

    Bukti yang relevan:

    Risiko jaringan parut dan dampak psikososial dapat meningkat.

    Pendekatan yang mungkin dipertimbangkan:

    Terapi sistemik dapat menjadi bagian dari penanganan sesuai tingkat keparahan dan hasil pemeriksaan dokter.

    Hal penting:

    Acne berat atau nodular sebaiknya mendapatkan evaluasi dokter.

    Jika masalah utama adalah:

    Acne pada Perempuan Dewasa

    Bukti yang relevan:

    Jalur hormonal dapat berperan, tetapi tidak semua pasien mempunyai kelainan hormon dalam pemeriksaan darah.

    Pendekatan yang mungkin dipertimbangkan:

    Terapi topikal, sistemik, atau hormonal tertentu dapat dipertimbangkan berdasarkan kondisi individual.

    Hal penting:

    Riwayat menstruasi dan tanda klinis peningkatan androgen dapat menjadi bagian dari penilaian bila relevan.

    Jika masalah utama adalah:

    Acne dengan Risiko Jaringan Parut

    Bukti yang relevan:

    Peradangan acne yang berlangsung lama dapat menyebabkan perubahan jaringan.

    Pendekatan yang mungkin dipertimbangkan:

    Pengendalian acne aktif secara tepat merupakan bagian penting dari pencegahan jaringan parut.

    Hal penting:

    Penanganan acne aktif berbeda dari penanganan jaringan parut.

    Jika masalah utama adalah:

    Acne dengan Dampak Psikososial

    Bukti yang relevan:

    Acne dapat memberikan dampak signifikan terhadap kualitas hidup.

    Pendekatan yang mungkin dipertimbangkan:

    Penilaian tingkat keparahan sebaiknya tidak hanya berdasarkan jumlah lesi.

    Hal penting:

    Pengalaman dan beban yang dirasakan pasien juga perlu dipertimbangkan.

    14. RINGKASAN SEDERHANA

    1. Acne adalah penyakit inflamasi kronis, bukan hanya akibat kulit berminyak.
    2. Sebum, keratinisasi folikel, mikrobioma dan peradangan saling berinteraksi.
    3. Cutibacterium acnes merupakan bagian normal dari mikrobioma kulit.
    4. Hormon androgen berperan dalam acne melalui pengaruhnya terhadap kelenjar sebaceous.
    5. Retinoid topikal dan benzoyl peroxide memiliki bukti ilmiah yang kuat.
    6. Kombinasi terapi dapat membantu menargetkan beberapa mekanisme acne.
    7. Antibiotik harus digunakan secara rasional untuk mengurangi risiko resistansi.
    8. Isotretinoin mempunyai peran penting pada acne berat atau kondisi tertentu yang tidak merespons terapi standar.
    9. Acne pada perempuan dewasa dapat mempunyai komponen hormonal, tetapi tidak selalu disebabkan oleh gangguan hormon.
    10. Pola makan dengan beban glikemik tinggi mungkin berpengaruh pada sebagian individu, tetapi bukan satu-satunya penyebab acne.
    11. Acne dapat memberikan dampak yang nyata terhadap kualitas hidup.
    12. Terapi cahaya, PDT, laser dan prosedur lainnya mempunyai bukti yang terus berkembang.
    13. Acne aktif dan jaringan parut acne merupakan dua kondisi yang berbeda.
    14. Pengendalian acne aktif merupakan bagian penting dalam mengurangi risiko terbentuknya jaringan parut.
    15. Tidak ada satu pendekatan yang otomatis sesuai untuk seluruh pasien.

    15. KESIMPULAN

    Acne vulgaris merupakan penyakit multifaktorial pada unit pilosebasea yang melibatkan interaksi antara sebum, keratinisasi folikel, mikrobioma, sistem imun, faktor hormonal, genetik dan lingkungan.

    Pemahaman mengenai acne telah berkembang dari pandangan sederhana bahwa acne hanya disebabkan oleh “minyak dan bakteri” menjadi pemahaman yang lebih kompleks mengenai hubungan antara kelenjar sebaceous, folikel, mikrobioma dan sistem imun.

    Bukti ilmiah saat ini mendukung penggunaan terapi yang menargetkan beberapa mekanisme acne. Retinoid topikal, benzoyl peroxide, dan beberapa terapi sistemik mempunyai dukungan bukti yang kuat pada kondisi yang sesuai. Isotretinoin mempunyai peran penting pada acne berat, acne dengan risiko jaringan parut atau dampak psikososial tertentu, serta acne yang tidak merespons terapi standar.

    Sementara itu, terapi fotodinamik, cahaya, laser, pengelupasan kimia dan berbagai teknologi berbasis energi terus mengalami perkembangan. Beberapa penelitian menunjukkan hasil yang menjanjikan, tetapi variasi protokol dan keterbatasan data jangka panjang membuat bukti tersebut perlu ditafsirkan secara hati-hati.

    Dengan demikian, pengelolaan acne sebaiknya tidak dimulai dari pertanyaan:

    “Treatment apa yang paling bagus?”

    Melainkan:

    “Apa jenis acne pasien, seberapa berat kondisinya, mekanisme apa yang relevan, apa faktor risikonya, dan pendekatan apa yang memiliki bukti paling sesuai untuk kondisi tersebut?”

    Pendekatan tersebut lebih sesuai dengan prinsip berbasis bukti dan berpusat pada pasien, sekaligus membantu menghindari klaim bahwa satu produk atau satu teknologi merupakan solusi universal untuk seluruh jenis acne.

    16. REFERENSI ILMIAH

    1. Reynolds RV, et al. (2024)

    Guidelines of care for the management of acne vulgaris.Journal of the American Academy of Dermatology. 90(5):1006.e1–1006.e30.

    PubMed — Pedoman Penanganan Acne Vulgaris

    DOI: 10.1016/j.jaad.2023.12.017

    2. Kelompok Pedoman EuroGuiDerm (2026)

    Update of the EuroGuiDerm evidence-based guideline for the treatment of acne — Short version.Journal of the European Academy of Dermatology and Venereology.

    PubMed — Pembaruan Pedoman EuroGuiDerm 2026

    3. Chen H, Zhang TC, Yin XL, et al. (2022)

    Magnitude and temporal trend of acne vulgaris burden in 204 countries and territories from 1990 to 2019: an analysis from the Global Burden of Disease Study 2019.British Journal of Dermatology. 186(4):673–683.

    PubMed — Beban Acne Global 1990–2019

    DOI: 10.1111/bjd.20882

    4. Analisis Global Acne Dewasa (2025)

    Global pattern, trend, and cross-country health inequality of adult acne aged 25+ years from 1990 to 2021.

    PubMed — Beban Acne Dewasa Global 1990–2021

    5. Qureshi S, Rehan Z, Ao A, Mukovozov I. (2025)

    Photodynamic Therapy in Acne Vulgaris: A Systematic Review.Journal of Cutaneous Medicine and Surgery. 29(1):69–73.

    PubMed — Terapi Fotodinamik pada Acne

    DOI: 10.1177/12034754241291031

    6. Yuan Y, Wang Y, Xia J, et al. (2024)

    Topical, light-based, and complementary interventions for acne: an overview of systematic reviews.Cochrane Database of Systematic Reviews. 2024(10):CD014918.

    PubMed — Tinjauan Cochrane mengenai Intervensi Acne

    DOI: 10.1002/14651858.CD014918.pub2

    7. Acne Vulgaris — Tinjauan Klinis (2021)

    Management of Acne Vulgaris: A Review.JAMA.

    PubMed — Tinjauan Penanganan Acne Vulgaris

    DOI: 10.1001/jama.2021.17633

    8. Layton AM, Bettoli V, Delore V, et al. (2026)

    The Burden of Acne Vulgaris on Health-Related Quality of Life and Psychosocial Well-Being Domains: A Systematic Review.American Journal of Clinical Dermatology. 27(1):17–47.

    PubMed — Acne dan Kualitas Hidup

    DOI: 10.1007/s40257-025-00983-3

    9. Cong TX, et al. (2019)

    From pathogenesis of acne vulgaris to anti-acne agents.

    PubMed — Mekanisme Terjadinya Acne

    DOI: 10.1007/s00403-019-01908-x

    10. Del Rosso JQ, et al. (2024)

    The primary role of sebum in the pathophysiology of acne vulgaris and its therapeutic relevance in acne management.

    PubMed — Sebum dan Mekanisme Acne

    DOI: 10.1080/09546634.2023.2296855

    11. Del Rosso JQ, et al. (2024)

    The cutaneous effects of androgens and androgen-mediated sebum production and their pathophysiologic and therapeutic importance in acne vulgaris.

    PubMed — Androgen dan Acne

    DOI: 10.1080/09546634.2023.2298878

    12. Lipson J. (2024)

    Adult Female Acne: Managing the Hormones.

    PubMed — Acne Perempuan Dewasa dan Hormon

    13. Tinjauan Sistematis Acne Perempuan Dewasa (2025)

    Etiology of Adult Female Acne — Systematic Review.

    PubMed — Tinjauan Sistematis Acne Perempuan Dewasa

    DOI: 10.1002/hsr2.70697

    14. Dréno B, Pécastaings S, Corvec S, et al. (2018)

    Cutibacterium acnes and acne vulgaris: a brief look at the latest updates.

    PubMed — Cutibacterium acnes dan Acne

    DOI: 10.1111/jdv.15043

    15. Interaksi Mikroba dan Inang pada Acne

    Host-microbiome interactions and recent progress into understanding the biology of acne vulgaris.

    PubMed — Mikrobioma dan Acne

    16. Dasar Peradangan pada Acne (2026)

    Inflammatory Basis of Acne Pathogenesis.

    PubMed — Dasar Peradangan pada Acne

    17. Kakpovbia EE, et al. (2025)

    Efficacy of topical treatments for mild-to-moderate acne: A systematic review and meta-analysis of randomized control trials.

    PubMed — Meta-analisis Terapi Topikal Acne

    DOI: 10.1111/jdv.20154

    18. Harper JC, et al. (2024)

    Treatments for Moderate-to-Severe Acne Vulgaris: A Systematic Review and Network Meta-analysis.

    PubMed — Meta-analisis Acne Sedang hingga Berat

    DOI: 10.36849/JDD.8148

    19. Wiraputranto MC, Sitohang IBS, Sampurna AT, Ilyas M. (2024)

    Effectiveness of Standard Therapy for Acne Vulgaris Based on Clinical Practice Guidelines in Indonesia.

    PubMed — Penelitian Terapi Acne di Indonesia

    DOI: 10.2147/CCID.S469143

    20. Tinjauan Sistematis Pola Makan dan Acne (2022)

    Diet and acne: A systematic review.

    PubMed — Pola Makan dan Acne

    21. Antibiotik Topikal sebagai Terapi Tunggal (2026)

    Topical Antibiotic Monotherapy Only Provides Mild Benefit for Patients with Acne Vulgaris: A Systematic Review and Network Meta-analysis.

    PubMed — Antibiotik Topikal dan Acne

    22. Rosenberg AL, et al. (2025)

    Optimal Use Recommendations and Stewardship Principles with Oral Antibiotics in Acne Vulgaris Management: An Expert Consensus Panel.

    PubMed — Penggunaan Antibiotik Oral pada Acne

    Sumber Asli

    Google Docs

    Baca di Google Docs

    Butuh Penanganan Langsung?

    Artikel di atas bersifat edukasi umum. Untuk kondisi kulit Anda, konsultasikan dengan dokter kami.

    Booking Konsultasi