Journals • Google Docs

Scientific Journal Series #3: ACNE SCAR

03 October 2026

Scientific Journal Series #3: ACNE SCAR

Daftar Isi

    ACNE SCAR

    Memahami Pembentukan, Klasifikasi, dan Pendekatan Berbasis Evidence untuk Bekas Jerawat

    Carla Skin ClinicScientific Education Series

    Tanggal penelitian literatur: 3 Oktober 2026

    Abstract

    Acne scar merupakan salah satu sequelae jangka panjang dari acne vulgaris dan dapat memberikan dampak kosmetik maupun psikososial yang bermakna. Acne scar tidak merupakan satu kondisi yang seragam. Secara morfologis, scar atrofik umumnya diklasifikasikan menjadi ice-pick, boxcar, dan rolling scar, sedangkan scar hipertrofik dan keloid merupakan bentuk scar yang berbeda secara biologis. Selain perubahan tekstur, pasien juga dapat mengalami perubahan warna seperti post-inflammatory hyperpigmentation (PIH) dan post-inflammatory erythema.

    Pembentukan acne scar berkaitan dengan respons inflamasi, kerusakan serta remodeling extracellular matrix, perubahan kolagen dan elastin, serta proses penyembuhan luka yang tidak sempurna. Penelitian histologis dan molekuler menunjukkan bahwa sebagian lesi acne yang berkembang menjadi scar memperlihatkan inflamasi yang lebih berat serta perubahan metabolisme kolagen dan elastin.

    Berbagai pendekatan telah diteliti, termasuk laser fraksional, microneedling, radiofrequency microneedling, subcision, chemical reconstruction, dermal filler, platelet-rich plasma (PRP), serta terapi kombinasi. Evidence terbaru menunjukkan bahwa hasil terapi sangat bergantung pada tipe scar, karakteristik kulit, parameter prosedur, dan kombinasi intervensi. Meta-analysis terbaru juga menunjukkan heterogenitas penelitian yang cukup tinggi, sehingga hasil dari satu kelompok pasien tidak dapat secara langsung digeneralisasi ke seluruh pasien acne scar.

    Dengan demikian, pendekatan modern terhadap acne scar sebaiknya bersifat individual, berbasis morfologi scar dan tujuan klinis, dengan mempertimbangkan manfaat, risiko, warna kulit, downtime, dan kualitas evidence yang tersedia.

    1. PENDAHULUAN

    Acne vulgaris merupakan penyakit inflamasi kronis pada unit pilosebasea. Pada sebagian pasien, proses inflamasi dapat diikuti oleh perubahan jaringan yang menetap dan menghasilkan acne scar.

    Acne scar bukan sekadar “bekas jerawat”. Secara klinis, kondisi ini dapat mencakup perubahan struktur permukaan kulit, kehilangan volume jaringan, fibrosis, perubahan kolagen dan elastin, serta perubahan warna kulit.

    Literatur modern menempatkan acne scar sebagai kondisi yang perlu dinilai secara terpisah dari acne aktif. Pasien dapat mengalami scar walaupun acne aktif telah membaik atau tidak lagi dominan. [1,2]

    Dampaknya juga tidak hanya bersifat estetis. Berbagai penelitian melaporkan bahwa acne scar dapat berhubungan dengan penurunan kualitas hidup dan beban psikososial. Sebuah studi observasional tahun 2025 terhadap 175 pasien dengan facial acne scars menemukan hubungan antara derajat scar dengan kualitas hidup, kecemasan, dan depresi; namun studi tersebut bersifat observasional sehingga tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat. [3]

    Karena itu, pemahaman acne scar memerlukan pendekatan yang mencakup:

    • morfologi scar,
    • kedalaman dan struktur jaringan,
    • warna kulit,
    • aktivitas inflamasi,
    • kondisi kulit pasien,
    • risiko efek samping,
    • dan evidence terapi yang tersedia.

    2. DEFINISI DAN SCIENTIFIC BACKGROUND

    2.1 Apa itu Acne Scar?

    Acne scar adalah perubahan jaringan kulit yang menetap setelah proses inflamasi acne dan proses penyembuhan luka.

    Secara sederhana:

    Acne aktif→ inflamasi→ kerusakan jaringan→ proses penyembuhan→ remodeling extracellular matrix→ pada sebagian individu terjadi perubahan struktur permanen→ acne scar

    Namun proses tersebut tidak selalu linear dan mekanismenya masih terus dipelajari. [2,4]

    2.2 Acne Scar Berbeda dari Acne Aktif

    KondisiKarakter utamaFokus klinis
    Acne aktifLesi inflamasi/non-inflamasiMengendalikan acne dan inflamasi
    PIHPerubahan warna kecokelatan setelah inflamasiMengendalikan pigmentasi dan mencegah inflamasi baru
    Post-inflammatory erythemaPerubahan warna kemerahan setelah inflamasiEvaluasi vaskular/inflamasi
    Atrophic acne scarKehilangan/penurunan volume jaringanRemodeling dan koreksi struktur
    Hypertrophic scarJaringan scar menonjolPengendalian fibrosis
    KeloidPertumbuhan scar melampaui batas lukaEvaluasi dan terapi scar patologis

    Dengan demikian, istilah “bekas jerawat” sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai satu masalah yang sama.

    3. KLASIFIKASI ACNE SCAR

    Klasifikasi morfologi sangat penting karena karakter scar menentukan pendekatan terapi yang secara biologis relevan.

    3.1 Atrophic Acne Scar

    Tiga bentuk klasik adalah:

    A. Icepick Scar

    Ciri:

    • sempit,
    • dalam,
    • berbentuk seperti lubang kecil,
    • dapat mencapai lapisan dermis yang lebih dalam.

    B. Boxcar Scar

    Ciri:

    • depresi dengan batas relatif tegas,
    • dapat berbentuk bulat atau oval,
    • kedalamannya bervariasi.

    C. Rolling Scar

    Ciri:

    • depresi lebih lebar,
    • batas tidak terlalu tajam,
    • memberikan permukaan kulit yang tampak bergelombang.

    Klasifikasi ice-pick, boxcar, dan rolling telah digunakan secara luas dalam literatur acne scar. [4,5]

    3.2 Hypertrophic Scar dan Keloid

    Berbeda dari atrophic scar yang menunjukkan kehilangan atau depresi jaringan, hypertrophic scar dan keloid merupakan bentuk scar dengan proliferasi jaringan fibrotik.

    Pada acne-induced pathological scars, inflamasi dan aktivitas fibroblast memiliki peran penting dalam proses fibrosis. Beberapa mediator imun, termasuk IL-4 dan IL-13, serta jalur yang berkaitan dengan fibrosis telah diteliti dalam proses tersebut. [6]

    4. BIOLOGICAL / PHYSIOLOGICAL MECHANISM

    Pembentukan acne scar merupakan proses kompleks yang melibatkan inflamasi, kerusakan extracellular matrix (ECM), fibroblast, kolagen, elastin, dan proses wound healing.

    4.1 Inflamasi

    Inflamasi merupakan salah satu faktor penting dalam perkembangan acne dan acne scarring.

    Pada pasien yang rentan mengalami atrophic scar, penelitian histologis menunjukkan adanya respons inflamasi yang lebih berat dan perubahan metabolisme collagen serta elastic fibres. [7]

    4.2 Extracellular Matrix

    Istilah ilmiah: Extracellular matrix (ECM)

    Penjelasan sederhana:ECM dapat dipahami sebagai jaringan struktural di sekitar sel yang membantu mempertahankan bentuk dan kekuatan jaringan kulit.

    Komponen pentingnya antara lain:

    • collagen,
    • elastin,
    • glycosaminoglycans,
    • berbagai protein matriks.

    Ketidakseimbangan antara kerusakan dan pembentukan kembali komponen tersebut dapat berkontribusi terhadap perubahan struktur kulit setelah inflamasi.

    4.3 Collagen

    Kolagen merupakan salah satu protein struktural utama pada dermis.

    Pada proses acne scarring, terdapat perubahan terhadap:

    • jumlah collagen,
    • organisasi collagen,
    • remodeling collagen,
    • interaksi collagen dengan komponen ECM lainnya.

    Penelitian pada atrophic acne scar menunjukkan adanya kerusakan collagen dan elastic fibres pada fase awal proses pembentukan scar pada individu yang rentan mengalami scarring. [7]

    4.4 Fibroblast

    Fibroblast merupakan sel penting dalam proses penyembuhan luka dan pembentukan ECM.

    Secara sederhana:

    Inflamasi → sinyal biologis → aktivasi fibroblast → produksi/remodeling ECM

    Jika respons penyembuhan tidak berlangsung secara seimbang, remodeling jaringan dapat menghasilkan struktur scar yang abnormal.

    4.5 TGF-β1

    Transforming growth factor beta 1 (TGF-β1) merupakan salah satu jalur signaling yang banyak dipelajari dalam proses fibrosis dan remodeling jaringan.

    Penelitian pada atrophic acne scar menemukan peningkatan signaling TGF-β1 pada jaringan yang menunjukkan kecenderungan menuju scarring. Temuan ini memberikan dasar biologis bahwa jalur tersebut mungkin berperan dalam abnormal ECM metabolism. [7]

    Namun:

    Temuan mekanistik ≠ bukti bahwa memodulasi satu jalur tertentu secara klinis pasti akan mencegah acne scar.

    5. KOMPONEN TEKNOLOGI / PENDEKATAN YANG BERKAITAN

    Karena acne scar merupakan kondisi struktural yang heterogen, tidak ada satu teknologi yang secara biologis menargetkan seluruh tipe scar dengan cara yang sama.

    PendekatanFungsi biologis yang ditargetkanTarget jaringanRelevansi klinis
    Fractional laserControlled thermal injury dan remodelingEpidermis/dermisAtrophic scar, tekstur
    MicroneedlingMicro-injury dan collagen remodelingDermisAtrophic scar
    RF microneedlingMicroneedling + thermal energyDermisAtrophic scar
    SubcisionPelepasan fibrotic tetheringDermis/subdermisTerutama rolling scar
    TCA CROSSChemical reconstruction lokalLesi scar tertentuTerutama scar kecil/deep
    Dermal fillerRestorasi volumeDermis/subdermisScar tertentu dengan volume loss
    PRPAutologous biological adjunctJaringan yang ditreatmentAdjunct pada beberapa prosedur
    Combination therapyMenargetkan lebih dari satu komponenBeragamScar campuran

    Evidence untuk masing-masing pendekatan berbeda kualitasnya dan sangat dipengaruhi protokol penelitian. [8–12]

    6. SKIN CONCERN / CLINICAL APPLICATION

    Concern / ConditionMasalah biologis utamaPendekatan yang berpotensi relevanEvidence
    Rolling scarFibrotic tethering + volume lossSubcision, resurfacing, filler/combinationEmerging–moderate
    Boxcar scarDepresi dengan kedalaman bervariasiFractional laser, microneedling, RF, kombinasiModerate
    Icepick scarDefek sempit dan dalamTeknik focal seperti TCA CROSS/punch-based approachesEmerging–moderate
    Mixed atrophic scarsBeberapa mekanisme sekaligusMultimodal treatmentModerate, tetapi heterogen
    PIHMelanin meningkat setelah inflamasiPigment management + preventionEvidence tersedia, tetapi berbeda dari scar struktural
    Post-inflammatory erythemaPerubahan vaskular/inflamasiVascular/light-based approaches tertentuEmerging
    Hypertrophic/keloid scarFibrosis berlebihanScar-directed medical managementBerbeda dari atrophic scar

    6.1 Stronger Evidence

    Evidence relatif lebih banyak tersedia untuk:

    • fractional laser,
    • microneedling,
    • RF microneedling,
    • kombinasi beberapa modalitas.

    Namun “lebih banyak penelitian” tidak sama dengan “pasti lebih efektif untuk setiap pasien”.

    6.2 Emerging Evidence

    Evidence masih berkembang untuk:

    • berbagai kombinasi energy-based devices,
    • biological adjuncts,
    • kombinasi beberapa prosedur dengan protokol baru,
    • teknologi regeneratif tertentu.

    6.3 Insufficient Evidence

    Untuk sejumlah teknologi baru, masih terdapat keterbatasan berupa:

    • sample size kecil,
    • follow-up pendek,
    • variasi parameter,
    • perbedaan metode evaluasi,
    • dan kurangnya RCT berkualitas tinggi.

    7. CLINICAL EVIDENCE

    STUDI 1 — Network Meta-analysis Terbaru

    Author: Ou Y, An G, Liang J, et al.Year: 2026Journal: Aesthetic Plastic SurgeryStudy design: Systematic review + Bayesian network meta-analysisParticipants: 1.488 pasienTrials: 56 RCTInterventions: 34 intervensiDatabase search: Januari 2010–Agustus 2025 [13]

    Penelitian ini membandingkan berbagai pendekatan untuk moderate-to-severe atrophic acne scars.

    Outcome yang digunakan antara lain:

    • ECCA score,
    • Goodman-Baron score,
    • significant improvement,
    • patient satisfaction,
    • pain.

    Penelitian menemukan adanya perbedaan hasil antara kombinasi treatment pada beberapa outcome.

    Interpretasi penting:

    Penelitian tersebut menggunakan metode network meta-analysis dan SUCRA untuk membandingkan intervensi. Hasil ranking statistik tidak boleh diterjemahkan menjadi “terapi terbaik untuk semua pasien”, karena sebagian besar studi menggunakan desain split-face/self-controlled dan terdapat heterogenitas antarprotokol. [13]

    Limitation:

    • heterogeneity,
    • perbedaan parameter treatment,
    • sebagian studi berukuran kecil,
    • banyak studi menggunakan split-face design,
    • perbedaan karakteristik scar dan pasien.

    STUDI 2 — Systematic Review & Network Meta-analysis

    Author: Li H, Jia B, Zhang X.Year: 2024Journal: Archives of Dermatological ResearchStudy design: Network meta-analysis RCTScope: Microneedling dan kombinasi microneedling [14]

    Studi ini mengevaluasi microneedling sebagai monoterapi maupun kombinasi dengan modalitas lain.

    Hasil menunjukkan bahwa kombinasi microneedling dengan intervensi tertentu dapat memberikan hasil yang berbeda dibandingkan microneedling saja.

    Namun, heterogenitas protokol dan ukuran penelitian membuat hasil perlu diinterpretasikan secara hati-hati.

    Kesimpulan:Microneedling memiliki evidence klinis untuk atrophic acne scar, tetapi protokol, scar morphology, dan kombinasi treatment dapat memengaruhi hasil. [14]

    STUDI 3 — Fractional Radiofrequency Microneedling

    Author: Niaz G, Ajeebi Y, Alshamrani HM, et al.Year: 2025Journal: Clinical, Cosmetic and Investigational DermatologyStudy design: Systematic reviewParticipants: 481 pasienStudies: 16 penelitian [15]

    Komposisi studi:

    • 6 prospective studies,
    • 6 randomized clinical trials,
    • 3 retrospective studies,
    • 1 comparative trial.

    Review ini menemukan bahwa fractional radiofrequency microneedling menunjukkan potensi sebagai terapi acne scar.

    Namun penulis menekankan perlunya RCT tambahan untuk menentukan parameter treatment yang optimal.

    Kesimpulan:Evidence mendukung potensi klinis RF microneedling, tetapi standardisasi parameter masih diperlukan. [15]

    STUDI 4 — Fractional CO₂ Laser vs Needling

    Year: 2026Study design: Systematic review + meta-analysisStudies: 17 penelitian [16]

    Analisis menunjukkan bahwa fractional CO₂ laser dan needling-based modalities memiliki efektivitas yang secara keseluruhan dapat dibandingkan, dengan heterogenitas yang tinggi pada beberapa outcome.

    CO₂ laser menunjukkan tingkat categorical treatment success yang lebih tinggi dalam analisis tertentu, tetapi juga dikaitkan dengan risiko PIH yang lebih tinggi dibandingkan standard microneedling pada analisis tersebut.

    Clinical interpretation:

    Pemilihan terapi tidak hanya mempertimbangkan perubahan scar, tetapi juga:

    • skin phototype,
    • risiko PIH,
    • toleransi nyeri,
    • downtime,
    • scar morphology.

    [16]

    STUDI 5 — Er:Glass vs CO₂ Laser

    Author: Xue D, Yu Y, Li X, et al.Year: 2026Journal: Aesthetic Plastic SurgeryStudy design: Systematic review + meta-analysisStudies: 4 prospective randomized trialsParticipants: 98 pasien [17]

    Meta-analysis menemukan tidak terdapat perbedaan signifikan dalam effective rate maupun patient satisfaction antara fractional Er:Glass dan CO₂ laser.

    Er:Glass menunjukkan:

    • nyeri prosedural lebih rendah,
    • crusting lebih singkat,
    • erythema lebih singkat.

    Namun jumlah studi hanya empat dengan total 98 peserta.

    Kesimpulan:Evidence ini mendukung kemungkinan bahwa Er:Glass dan CO₂ dapat menghasilkan outcome klinis yang sebanding dalam populasi penelitian tertentu, dengan perbedaan pada tolerabilitas dan recovery. Tetapi jumlah bukti masih terbatas. [17]

    STUDI 6 — Fractional CO₂ Laser + PRP

    Author: Aljefri YE, Ghaddaf AA, Alahmadi RA, et al.Year: 2022Journal: Dermatologic TherapyStudy design: Systematic review + meta-analysisParticipants: 313 pasienRCT: 11 [18]

    Dibandingkan fractional CO₂ laser saja, kombinasi dengan autologous PRP menunjukkan:

    • clinical improvement yang lebih tinggi,
    • patient satisfaction yang lebih tinggi,
    • perbaikan Goodman-Baron score.

    Effect estimates yang dilaporkan:

    • clinical improvement: OR 2,56
    • patient satisfaction: OR 3,38
    • Goodman-Baron score: SMD −0,40.

    Namun penelitian yang dimasukkan menggunakan berbagai protokol, sehingga hasil tidak otomatis berlaku untuk semua kombinasi CO₂ laser + PRP. [18]

    STUDI 7 — Subcision dan Safety

    Author: Sun C, Lim D.Year: 2025Journal: Journal of Cosmetic DermatologyStudy design: Review of literatureStudies: 10 artikel mengenai subcision monotherapy [19]

    Komplikasi yang dilaporkan meliputi:

    • pain/tenderness,
    • bruising,
    • infection,
    • subcutaneous lumps,
    • dyspigmentation.

    Review tersebut menyimpulkan bahwa subcision dapat digunakan untuk acne scarring, tetapi clinician perlu memahami risiko komplikasi dan karakteristik instrumen yang digunakan. [19]

    STUDI 8 — Microneedling Monotherapy

    Study design: Meta-analysis RCTStudies: 12Participants: 414 [20]

    Meta-analysis menemukan adanya evidence bahwa microneedling dapat memperbaiki acne scar.

    Namun tidak semua outcome menunjukkan perbedaan bermakna terhadap treatment pembanding.

    Temuan ini mendukung penggunaan microneedling sebagai salah satu modalitas, tetapi tidak menunjukkan bahwa microneedling merupakan solusi universal untuk semua tipe acne scar.

    8. WHAT DOES THE EVIDENCE ACTUALLY SAY?

    Evidence menunjukkan:

    1. Acne scar merupakan kondisi heterogen.
    2. Tipe scar perlu diidentifikasi sebelum menentukan pendekatan.
    3. Fractional laser, microneedling, RF microneedling, subcision, chemical reconstruction, filler, dan combination therapies memiliki evidence klinis dengan tingkat kepastian yang berbeda.
    4. Combination therapy dapat memberikan keuntungan pada sebagian pasien karena beberapa komponen scar dapat ditargetkan sekaligus.
    5. Risiko PIH dan downtime merupakan faktor penting, terutama pada pasien dengan kulit yang lebih berpigmen.
    6. Penilaian objektif seperti ECCA, Goodman-Baron dan perangkat imaging dapat membantu evaluasi outcome. [21]

    Evidence belum dapat memastikan:

    • satu treatment universal untuk seluruh acne scar,
    • satu parameter laser atau microneedling yang optimal untuk semua pasien,
    • bahwa hasil suatu studi dapat diterapkan pada semua skin phototypes,
    • bahwa kombinasi treatment selalu lebih baik dalam setiap kondisi,
    • bahwa teknologi baru dengan mekanisme biologis menarik otomatis memiliki clinical evidence yang kuat.

    Hal yang masih membutuhkan penelitian:

    • RCT dengan sample size lebih besar,
    • follow-up jangka panjang,
    • standardisasi outcome measurement,
    • standardisasi treatment parameters,
    • penelitian pada berbagai skin phototypes,
    • evaluasi kombinasi terapi secara head-to-head,
    • cost-effectiveness,
    • long-term recurrence dan adverse events.

    9. COMPARISON

    ParameterFractional LaserMicroneedlingRF MicroneedlingSubcision
    MekanismeControlled thermal injuryControlled micro-injuryMicro-injury + RF energyMechanical release
    Target utamaDermal remodelingDermal remodelingDermal remodelingFibrotic tethering
    RelevansiAtrophic scarAtrophic scarAtrophic scarRolling scar tertentu
    EvidenceRelatif luasRelatif luasBerkembangBerkembang
    DowntimeBergantung laser/parameterUmumnya lebih rendahUmumnya moderatBruising/swelling dapat terjadi
    Risiko pentingPIH, erythema, edemaPIH/inflammation dapat terjadiPIH/inflammationBruising, lumps, dyspigmentation
    KeterbatasanParameter sangat menentukanTidak semua scar respons samaParameter belum terstandardisasi penuhTidak cocok untuk semua morphology

    Catatan: tabel ini bukan ranking efektivitas. Perbedaan mekanisme berarti setiap modalitas memiliki target biologis yang berbeda.

    10. WHO MAY BENEFIT?

    Pasien yang secara klinis dapat dipertimbangkan untuk evaluasi acne scar antara lain mereka dengan:

    • atrophic acne scar,
    • rolling scar,
    • boxcar scar,
    • icepick scar,
    • mixed acne scars,
    • tekstur kulit tidak rata setelah acne,
    • scar dengan komponen volume loss,
    • perubahan warna pasca-acne yang menyertai scar.

    Namun kesesuaian treatment harus ditentukan melalui evaluasi individual.

    May be considered lebih tepat daripada mengatakan:

    “pasti cocok untuk”.

    11. WHO MAY NOT BE SUITABLE?

    Kelayakan treatment perlu dipertimbangkan kembali pada pasien dengan kondisi seperti:

    • active infection,
    • acne inflamasi yang belum terkontrol,
    • wound healing disorder,
    • riwayat scar patologis tertentu,
    • kondisi medis tertentu,
    • penggunaan obat tertentu,
    • alergi terhadap komponen prosedur,
    • kondisi kulit yang sedang mengalami inflamasi aktif.

    Untuk prosedur yang bersifat invasif atau energy-based, penilaian dokter diperlukan.

    Patient suitability should be determined through individual medical assessment.

    12. SIDE EFFECTS & SAFETY

    Expected temporary reactions

    Beberapa prosedur acne scar dapat menyebabkan:

    • erythema,
    • edema,
    • tenderness,
    • rasa panas,
    • crusting,
    • temporary sensitivity.

    Durasi bergantung pada jenis prosedur dan parameter yang digunakan.

    Adverse events / complications

    Dapat mencakup:

    • post-inflammatory hyperpigmentation,
    • prolonged erythema,
    • infection,
    • prolonged inflammation,
    • dyspigmentation,
    • textural change,
    • bruising,
    • hematoma,
    • subcutaneous nodules/lumps,
    • iatrogenic scarring.

    Subcision, misalnya, dilaporkan dapat menyebabkan bruising, infection, subcutaneous lumps, dan dyspigmentation. [19]

    Fractional laser juga dapat menyebabkan PIH, terutama pada individu dengan risiko pigmentasi yang lebih tinggi. Beberapa meta-analysis terbaru menunjukkan perbedaan risiko PIH antara modalitas laser dan needling. [16,17]

    Faktor yang memengaruhi safety

    Risiko tidak hanya ditentukan oleh nama treatment.

    Faktor yang relevan antara lain:

    • skin phototype,
    • scar morphology,
    • energy,
    • fluence,
    • pulse parameters,
    • treatment depth,
    • jumlah passes,
    • operator experience,
    • device,
    • kombinasi treatment,
    • kondisi kulit pasien,
    • aftercare.

    13. LIMITATIONS OF CURRENT EVIDENCE

    Evidence acne scar memiliki beberapa masalah penting.

    1. Heterogeneity

    Penelitian menggunakan:

    • device berbeda,
    • parameter berbeda,
    • jumlah sesi berbeda,
    • interval berbeda,
    • outcome berbeda.

    2. Sample size

    Sebagian RCT memiliki jumlah peserta relatif kecil.

    3. Split-face design

    Banyak penelitian menggunakan split-face design.

    Desain ini berguna karena satu pasien dapat menjadi kontrol terhadap dirinya sendiri, tetapi generalisasi ke populasi luas tetap perlu dilakukan secara hati-hati.

    4. Outcome measurement

    Tidak semua penelitian menggunakan sistem grading yang sama.

    ECCA, Goodman-Baron, investigator assessment, patient satisfaction, dan imaging dapat memberikan perspektif berbeda. [21]

    5. Skin phototype

    Representasi berbagai skin phototypes belum selalu konsisten.

    Hal ini penting karena risiko PIH dan respons terhadap energy-based treatment dapat berbeda.

    6. Long-term data

    Banyak studi lebih berfokus pada outcome beberapa minggu atau bulan setelah treatment.

    Data jangka panjang masih lebih terbatas.

    14. PRACTICAL CLINICAL INTERPRETATION

    Jika concern utama:

    Rolling scar

    Evidence yang relevan:Rolling scar sering memiliki komponen fibrotic tethering.

    Potential approach:Subcision dapat menjadi salah satu pendekatan yang secara mekanistik relevan, dengan kemungkinan kombinasi modalitas lain sesuai kondisi jaringan.

    Important consideration:Risiko bruising, hematoma, dyspigmentation, dan subcutaneous irregularity perlu diperhatikan. [19]

    Boxcar scar

    Evidence yang relevan:Fractional laser, microneedling, dan RF microneedling telah dipelajari untuk atrophic acne scars.

    Potential approach:Pemilihan bergantung pada kedalaman, batas scar, skin phototype, dan toleransi downtime.

    Important consideration:Tidak semua boxcar scar memiliki kedalaman atau karakteristik yang sama.

    Icepick scar

    Evidence yang relevan:Scar yang sempit dan dalam membutuhkan pendekatan yang berbeda dari rolling scar.

    Potential approach:Focal procedures seperti TCA CROSS atau punch-based techniques telah digunakan dalam literatur.

    Important consideration:Tidak tepat menganggap resurfacing seluruh wajah sebagai satu-satunya pendekatan untuk semua icepick scars. [8,22]

    Mixed acne scar

    Evidence yang relevan:Mixed scars dapat mengandung beberapa morfologi sekaligus.

    Potential approach:Pendekatan multimodal dapat dipertimbangkan agar setiap komponen scar ditargetkan sesuai karakteristiknya.

    Important consideration:Combination therapy tidak berarti semua treatment harus dilakukan sekaligus. Sequencing dan patient selection tetap penting.

    15. SIMPLE TAKEAWAY

    1. Acne scar bukan satu jenis kondisi.
    2. Tiga tipe atrophic scar yang paling dikenal adalah icepick, boxcar, dan rolling scar.
    3. Hypertrophic scar dan keloid memiliki mekanisme fibrosis yang berbeda dari atrophic scar.
    4. Inflamasi berperan penting dalam proses pembentukan acne scar.
    5. Perubahan collagen dan elastin merupakan bagian penting dari remodeling jaringan.
    6. Tidak semua scar merespons treatment yang sama.
    7. Fractional laser, microneedling, RF microneedling, subcision, chemical reconstruction, filler, dan kombinasi telah dipelajari dengan evidence yang berbeda.
    8. Combination therapy dapat memiliki peran karena acne scar sering terdiri dari beberapa komponen struktural.
    9. Risiko PIH perlu menjadi pertimbangan penting, terutama pada pasien dengan kulit yang lebih berpigmen.
    10. Tujuan treatment acne scar sebaiknya bukan mencari satu treatment universal, tetapi mencocokkan pendekatan dengan morphology, biology, skin characteristics, dan clinical evidence.

    16. CONCLUSION

    Acne scar merupakan kondisi kompleks yang melibatkan perubahan struktural, inflamasi, extracellular matrix remodeling, serta perubahan collagen dan elastin.

    Evidence hingga Oktober 2026 mendukung penggunaan berbagai modalitas seperti fractional laser, microneedling, RF microneedling, subcision, chemical reconstruction, filler, PRP sebagai adjunct pada kondisi tertentu, serta combination therapy.

    Namun, evidence belum mendukung kesimpulan bahwa terdapat satu treatment yang paling efektif untuk seluruh pasien acne scar.

    Perbedaan morfologi—terutama antara icepick, boxcar, dan rolling scar—merupakan dasar penting dalam menentukan pendekatan. Faktor lain seperti skin phototype, risiko PIH, kedalaman scar, downtime, parameter device, pengalaman operator, dan kondisi pasien juga perlu diperhitungkan.

    Literatur terbaru semakin menunjukkan bahwa acne scar management bergerak menuju pendekatan individualized and multimodal, tetapi kualitas evidence masih dibatasi oleh heterogeneity, sample size yang relatif kecil pada sebagian studi, variasi parameter, dan kurangnya data jangka panjang.

    Dengan demikian, evidence-based acne scar management bukan sekadar memilih teknologi, tetapi memahami scar yang ingin ditargetkan, mekanisme biologis yang mendasarinya, kualitas evidence, serta risk-benefit profile pada masing-masing pasien.

    17. REFERENCES

    [1]

    Jennings T, et al. (2024). Acne scarring-pathophysiology, diagnosis, prevention and education: Part I.Journal of the American Academy of Dermatology.

    [2]

    Schoenberg E, et al. (2023). Beyond the Surface: A Deeper Look at the Psychosocial Impacts of Acne Scarring.Clinical, Cosmetic and Investigational Dermatology.

    [3]

    The impact of facial acne scars on quality of life, anxiety, depression and its associated risk factors. (2025). PubMed-indexed observational study.

    [4]

    Jacob CI, Dover JS, Kaminer MS. (2001). Acne scarring: a classification system and review of treatment options.Journal of the American Academy of Dermatology.

    [5]

    Fabbrocini G, Annunziata MC, D'Arco V, et al. (2010). Acne scars: pathogenesis, classification and treatment.Dermatology Research and Practice.

    [6]

    Xu W, Gholamali Sinaki D, Tang Y, et al. (2024). Acne-induced pathological scars: pathophysiology and current treatments.Burns & Trauma.

    [7]

    Moon J, Yoon JY, Yang JH, et al. (2019). Atrophic acne scar: a process from altered metabolism of elastic fibres and collagen fibres based on transforming growth factor-β1 signalling.British Journal of Dermatology.

    [8]

    Kravvas G, Al-Niaimi F. (2017). A systematic review of treatments for acne scarring. Part 1: Non-energy-based techniques.Scars, Burns & Healing.

    [9]

    Bhargava S, Cunha PR, Lee J, Kroumpouzos G. (2018). Acne Scarring Management: Systematic Review and Evaluation of the Evidence.American Journal of Clinical Dermatology.

    [10]

    Niaz G, Ajeebi Y, Alshamrani HM, et al. (2025). Fractional Radiofrequency Microneedling as a Monotherapy in Acne Scar Management: A Systematic Review of Current Evidence.Clinical, Cosmetic and Investigational Dermatology.

    [11]

    Li H, Jia B, Zhang X. (2024). Comparing the efficacy and safety of microneedling and its combination with other treatments in patients with acne scars: a network meta-analysis of randomized controlled trials.Archives of Dermatological Research.

    [12]

    Tahiliani S, Mysore V, Ganjoo A, et al. (2024). Practical Aspects of Acne Scar Management: ASAP 2024.Cureus.

    [13]

    Ou Y, An G, Liang J, et al. (2026). Laser, Microneedling, and Combination Therapies for Moderate to Severe Acne Atrophic Scars: A Systematic Review and Network Meta-Analysis.Aesthetic Plastic Surgery.

    [14]

    Li H, Jia B, Zhang X. (2024). Comparing the efficacy and safety of microneedling and its combination with other treatments in patients with acne scars: a network meta-analysis of randomized controlled trials.Archives of Dermatological Research.

    [15]

    Niaz G, Ajeebi Y, Alshamrani HM, et al. (2025). Fractional Radiofrequency Microneedling as a Monotherapy in Acne Scar Management.Clinical, Cosmetic and Investigational Dermatology.

    [16]

    Comparing fractional CO₂ laser and needling-based modalities in facial acne scar treatment: a comprehensive systematic review and meta-analysis. (2026).

    [17]

    Xue D, Yu Y, Li X, et al. (2026). Efficacy and Safety of Er:Glass versus CO₂ Lasers in the Treatment of Atrophic Acne Scars: A Systematic Review and Meta-Analysis.Aesthetic Plastic Surgery.

    [18]

    Aljefri YE, Ghaddaf AA, Alahmadi RA, et al. (2022). Ablative fractional carbon dioxide laser combined with autologous platelet-rich plasma in the treatment of atrophic acne scars: A systematic review and meta-analysis.Dermatologic Therapy.

    [19]

    Sun C, Lim D. (2025). Complications of Subcision for Acne Scarring: Experience From Clinical Practice and Review of the Literature.Journal of Cosmetic Dermatology.

    [20]

    Microneedling Monotherapy for Acne Scar: Systematic Review and Meta-Analysis of Randomized Controlled Trials. (2022).

    [21]

    Choosing the right outcome measures for acne scar research: a guide for clinicians. (2025).

    [22]

    Subcision versus 100% trichloroacetic acid in the treatment of rolling acne scars.Dermatologic Surgery.

    Source list — tautan yang dapat dibuka

    Berikut sumber utama yang saya gunakan dan verifikasi langsung di PubMed:

    1. Jennings et al. — Acne scarring: pathophysiology, diagnosis, prevention and educationPubMed — PMID 35792196
    2. Xu et al. 2024 — Acne-induced pathological scars: pathophysiology and current treatmentsPubMed — PMID 38585341
    3. Moon et al. 2019 — Collagen, elastin & TGF-β1 in atrophic acne scarPubMed — PMID 30822364
    4. Ou et al. 2026 — Laser, Microneedling, and Combination TherapiesPubMed — PMID 42429955
    5. Xue et al. 2026 — Er:Glass vs CO₂ laserPubMed — PMID 41364211
    6. Niaz et al. 2025 — Fractional Radiofrequency MicroneedlingPubMed — PMID 39781098
    7. Aljefri et al. 2022 — Fractional CO₂ + PRPPubMed — PMID 36183145
    8. Sun & Lim 2025 — Subcision complicationsPubMed — PMID 39492124
    9. Tahiliani et al. 2024 — ASAP 2024 practical acne scar managementPubMed — PMID 38595878
    10. Choosing the right outcome measures for acne scar research — 2025PubMed — PMID 39957325
    11. Microneedling Monotherapy — systematic review/meta-analysis of RCTsPubMed — PMID 35426044
    12. Subcision vs 100% TCA CROSS for rolling acne scarsPubMed — PMID 21457391

    Sumber Asli

    Google Docs

    Baca di Google Docs

    Butuh Penanganan Langsung?

    Artikel di atas bersifat edukasi umum. Untuk kondisi kulit Anda, konsultasikan dengan dokter kami.

    Booking Konsultasi