Bopeng Bukan Hanya Karena Dipencet, Ini Proses Inflamasi yang Merusak Kolagen
Ternyata bopeng dapat muncul bahkan tanpa kebiasaan memencet jerawat, proses inflamasi di dalam kulit menjadi faktor yang sering kali luput disadari.
Bopeng masih menjadi keluhan utama bagi banyak orang dengan riwayat jerawat berulang. Bopeng atau yang secara medis disebut atrophic scars, terjadi akibat kerusakan kolagen selama proses penyembuhan jerawat yang meradang hebat.
Ketika jerawat merusak lapisan dermis, tubuh seringkali tidak memproduksi kolagen yang cukup untuk mengisi area tersebut, sehingga terbentuklah cekungan. Tipe bopeng seperti ice pick scar (sering disebut bopeng bintang karena kedalamannya) dan boxcar scar (bopeng berbentuk piringan) memerlukan pendekatan medis yang presisi untuk merangsang regenerasi kulit dari dalam.
Tidak sedikit yang meyakini bahwa cekungan pada kulit hanya terjadi karena kebiasaan memencet jerawat. Namun menurut dr. Tiffany Dwi Yanti, Head Doctor Carla Skin Clinic, pandangan tersebut tidak sepenuhnya tepat.
“Anggapan bahwa bopeng hanya disebabkan karena memencet jerawat itu kurang tepat. Memencet jerawat memang bisa meningkatkan risiko, tetapi bukan berarti setiap jerawat yang dipencet pasti akan menjadi bopeng," jelas dr. Tiffany.
Untuk mengatasi bopeng bukan hanya soal mengurangi tampilan bekasnya, tetapi juga merangsang regenerasi kulit untuk memperbaiki tekstur secara bertahap. Ketika jerawat merusak lapisan dermis, tubuh seringkali tidak memproduksi kolagen yang cukup untuk mengisi area tersebut, sehingga terbentuklah cekungan.
Lantas, bagaimana jerawat yang tidak pernah dipencet dapat meninggalkan bopeng permanen?
Inflamasi di Balik Rusaknya Kolagen
Penjelasan medisnya terdapat pada proses yang berlangsung di bawah permukaan kulit.Pada jerawat yang meradang, terjadi sumbatan pada folikel yang disertai peningkatan produksi sebum. Kondisi tersebut kemudian memicu respons inflamasi dari sistem imun kulit.
"Pada acne yang meradang, awalnya terjadi sumbatan pada folikel, kemudian terjadi peningkatan produksi sebum dan perubahan lingkungan di dalam folikel. Kondisi ini dapat memicu respons inflamasi dari sistem imun kulit," ujar dr. Tiffany.
Ketika sistem imun mendeteksi adanya gangguan, tubuh akan mengirimkan sel pertahanan seperti neutrofil beserta berbagai mediator inflamasi. Mekanisme ini merupakan bagian dari pertahanan alami tubuh. Namun, apabila inflamasi berlangsung terlalu kuat dan berkepanjangan, respons tersebut justru dapat merusak jaringan di sekitarnya.
"Di dalam proses inflamasi tersebut, tubuh melepaskan berbagai mediator inflamasi dan enzim. Pada kondisi inflamasi jerawat yang berat dan berkepanjangan, aktivitas enzim-enzim tersebut dapat meningkat. Akibatnya, terjadi degradasi atau kerusakan terhadap kolagen dan struktur dermis di sekitar lesi jerawat," lanjutnya.
Tim Dokter Carlan Skin Clinic ini juga menganalogikan lapisan dermis sebagai jaringan penyangga kulit yang kaya akan kolagen. Ketika peradangan dalam terjadi, jaringan penyangga tersebut dapat mengalami kerusakan yang tidak selalu terlihat dari permukaan. Setelah fase peradangan mereda, kulit memasuki tahap penyembuhan dan remodeling kolagen. Pada sebagian orang, proses pembentukan kembali jaringan tidak berjalan optimal.
"Kalau terjadi kehilangan jaringan atau kolagen yang cukup banyak, hasil akhirnya dapat berupa cekungan pada permukaan kulit. Inilah yang kemudian kita kenal sebagai atrophic acne scar atau bopeng," tegas dr. Tiffany.
Dengan demikian, jerawat dengan peradangan dalam seperti nodul dan kista memang memiliki risiko lebih tinggi meninggalkan bopeng, bahkan tanpa manipulasi dari luar. Keluhan jerawat yang terasa nyeri dan bengkak sering kali menimbulkan kekhawatiran.
Apakah kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa risiko bopeng meningkat? dr. Tiffany menyampaikan bahwa nyeri dan bengkak memang mengindikasikan peradangan yang sedang aktif. Area jerawat menjadi memerah, menghangat, dan berdenyut sebagai respons imun tubuh.
Treatment Yang Tepat Mengatasi Bopeng
Bagi pasien dengan kondisi jerawat aktif yang disertai bopeng, dr. Tiffany menegaskan pentingnya penanganan bertahap. Fokus utama adalah mengontrol sumber inflamasi terlebih dahulu, baru memperbaiki struktur scar.
"Secara prinsip, kalau jerawat pasien masih aktif dan sering meradang, saya biasanya akan fokus mengontrol jerawatnya terlebih dahulu sebelum melakukan treatment scar yang lebih intensif. Alasannya sederhana: selama jerawat masih sering muncul dan mengalami peradangan, risiko terbentuknya bekas jerawat baru juga masih ada," ujar dr. Tiffany.
Pada fase jerawat aktif, Carla Skin Clinic memiliki program Acne Clear Pro, yakni program intensif dengan durasi sekitar empat bulan yang mengombinasikan Gold PTT, Laser Sellas, medical facial, dan Salmon DNA.
Kombinasi tersebut ditujukan untuk membantu mengontrol produksi minyak, meredakan peradangan, dan mencegah terbentuknya bopeng baru.Setelah kondisi jerawat lebih terkontrol, perbaikan tekstur dapat dilanjutkan dengan signature treatment Trifill Scar Revival™ yang mengusung filosofi Scar Repair, Perfected.
"Trifill Scar Revival adalah treatment acne scar di Carla Skin Clinic yang menggunakan pendekatan COâ‚‚ micro-subcision dan collagen remodeling. Konsep sederhananya adalah, pada scar tertentu terdapat jaringan di bawah kulit yang dapat memberikan efek seperti menarik permukaan kulit ke bawah. Karena itu, pendekatannya tidak hanya berfokus pada permukaan kulit, tetapi juga mencoba menangani komponen scar yang berada di bawah permukaan tersebut," jelas dr. Tiffany.
Dalam satu sesi, Trifill menjalankan tiga aksi berurutan, yakni COâ‚‚ untuk membantu melepaskan jaringan fibrotik yang menarik kulit ke bawah, pemberian regenerative solution yang mengandung growth factor, serta pemberian COâ‚‚ kembali untuk membantu distribusi larutan tersebut.
"Cara paling mudah menjelaskannya adalah bahwa laser dan microneedling terutama bekerja melalui proses remodeling jaringan. Sementara itu, pada scar yang memiliki tethering, kita juga perlu mempertimbangkan adanya jaringan di bawah kulit yang menarik permukaan kulit ke bawah. Trifill menggunakan pendekatan COâ‚‚ micro-subcision untuk membantu melepaskan adhesi tersebut," tutup dr. Tiffany.
(Galuh/24102026)
⚡ Ingin konsultasi langsung dengan dokter kulit?
Booking konsultasi GRATIS di Carla Skin Clinic!
Booking Sekarang →