Edukasi dan Kenali Tentang Bopeng: Mitos, Penyebab, dan Proses Terbentuknya Menurut dr. Nadela dari Carla Skin Clinic
Bopeng atau acne scar terjadi ketika peradangan pada jerawat sudah cukup dalam hingga merusak jaringan dan kolagen di lapisan dermis kulit.
Di tengah tren perawatan kulit yang semakin marak, masih banyak masyarakat Indonesia yang memiliki pemahaman keliru tentang bopeng. Salah satu mitos yang paling sering terdengar adalah anggapan bahwa bopeng pasti muncul karena kebiasaan memencet jerawat. Padahal, jika dilihat dari sisi medis, proses terbentuknya tidak sesederhana itu.
Dalam istilah medis, bopeng dikenal sebagai acne scar atau lebih spesifik lagi atrophic acne scar. Kondisi ini merupakan bekas jerawat yang meninggalkan cekungan pada permukaan kulit akibat hilangnya jaringan penyangga di lapisan dermis. Bukan sekadar bekas biasa, bopeng berkaitan erat dengan seberapa dalam dan beratnya peradangan jerawat yang terjadi.
Sayangnya, karena kurangnya literasi, banyak orang menyamaratakan semua bekas jerawat sebagai bopeng, sehingga penanganannya pun menjadi tidak tepat. Padahal, ada perbedaan yang jelas antara bekas kemerahan atau kehitaman yang masih bisa memudar dengan bopeng yang merupakan perubahan tekstur permanen.
Untuk meluruskan mitos tersebut, dr. Nadella, dokter estetika di Carla Skin Clinic Taman Harapan Indah, Jakarta Barat, memberikan edukasi secara rinci, lengkap, dan mudah dipahami mengenai mitos, penyebab, dan proses terbentuknya bopeng dari sudut pandang medis.
Adapun dr. Nadela merupakan lulusan School of Medicine & Health Sciences, Atma Jaya Catholic University of Indonesia pada tahun 2023 dan memulai praktik di tahun yang sama. Ketertarikan dokter berparas cantik ini pada bidang aesthetic medicine, khususnya skin rejuvenation dan peningkatan kualitas kulit, membuatnya memandang perawatan kulit tidak hanya sebagai upaya meningkatkan penampilan, tetapi juga sebagai bagian dari menjaga kesehatan kulit dan mendukung rasa percaya diri pasien melalui pendekatan preventive aging.
1. Meluruskan Mitos: Tidak Semua Bopeng Karena Dipencet
Menurut dr. Nadella anggapan bahwa penyebab bopeng karena memencet jerawat adalah kurang tepat.
Memencet jerawat memang bisa meningkatkan risiko terbentuknya bopeng, tetapi bukan berarti setiap jerawat yang dipencet pasti akan menjadi bopeng," jelasnya.
Bopeng atau acne scar terjadi ketika peradangan pada jerawat sudah cukup dalam hingga merusak jaringan dan kolagen di lapisan dermis kulit. Jadi, jerawatnya sendiri yang menjadi faktor utama.
"Bopeng terjadi ketika peradangan pada jerawat sudah cukup dalam hingga merusak jaringan dan kolagen di lapisan dermis kulit. Jadi, jerawatnya sendiri, terutama jerawat yang besar, dalam, dan meradang seperti nodul atau kista, sudah memiliki risiko untuk meninggalkan bopeng meskipun tidak dipencet," kata dr. Nadella.
Kebiasaan memencet justru berperan sebagai faktor yang memperburuk. Ketika jerawat dipencet dengan tekanan yang kuat, berulang, atau dengan tangan yang tidak bersih, kulit akan mengalami trauma tambahan. Hal ini dapat memperpanjang peradangan dan meningkatkan risiko infeksi, yang pada akhirnya meningkatkan kemungkinan terbentuknya scar.
"Jadi sebenarnya bukan sesederhana ‘dipencet pasti bopeng’. Lebih tepatnya, semakin berat dan dalam peradangannya, semakin besar risiko terjadinya scar, dan memencet secara agresif dapat membuat risikonya semakin tinggi," ujarnya.
Hal lain yang juga sering disalahartikan adalah menyamakan semua bekas jerawat sebagai bopeng.
"Selain itu, masyarakat juga sering menganggap semua bekas jerawat sebagai bopeng. Padahal belum tentu. Kalau setelah jerawat sembuh yang tersisa hanya bekas merah atau kecokelatan dan permukaan kulit masih rata, itu lebih mungkin merupakan bekas peradangan, seperti PIE atau PIH, bukan bopeng. Bopeng sendiri ditandai dengan adanya perubahan tekstur atau cekungan pada permukaan kulit akibat kehilangan jaringan," tegas dr. Nadella.
Oleh karena itu, ia menyarankan agar jerawat yang sedang meradang tidak dipencet sendiri. Penanganan oleh tenaga profesional dan mengontrol peradangan sejak awal adalah kunci utama untuk mengurangi risiko munculnya acne scar di kemudian hari.
2. Secara Medis, Apa Itu Bopeng dan Apa Penyebabnya?
Secara medis, istilah bopeng yang dikenal masyarakat mengacu pada acne scar atrofik, yaitu bekas jerawat yang menyebabkan permukaan kulit menjadi cekung atau tidak rata.
Kondisi ini terjadi karena peradangan jerawat yang cukup dalam dan berat merusak kolagen dan jaringan di lapisan dermis. Saat tubuh berusaha memperbaiki jaringan tersebut, pada kondisi tertentu pembentukan kolagen tidak kembali seperti semula. Akibatnya, terjadi kehilangan atau berkurangnya jaringan di bawah kulit sehingga permukaan kulit terlihat cekung.
"Penyebab utama bopeng adalah peradangan jerawat yang cukup dalam, terutama pada acne yang berbentuk nodul atau kista. Semakin berat dan semakin lama peradangan berlangsung, semakin besar kemungkinan jaringan dermis mengalami kerusakan," jelas dr. Nadella.
3. Bagaimana Proses Inflamasi Bisa Merusak Kolagen Hingga Menjadi Bopeng?
Untuk memahami mengapa bopeng bisa terbentuk bahkan tanpa dicungkil, kita perlu melihat apa yang terjadi di dalam kulit.
"Untuk memahaminya, kita perlu melihat apa yang terjadi di dalam jerawat. Pada acne yang meradang, awalnya terjadi sumbatan pada folikel, kemudian terjadi peningkatan produksi sebum dan perubahan lingkungan di dalam folikel. Kondisi ini dapat memicu respons inflamasi dari sistem imun kulit," kata dr. Nadella.
Ketika tubuh mengenali adanya proses yang dianggap mengganggu, sistem imun akan mengirimkan berbagai sel dan mediator inflamasi ke area tersebut, salah satunya adalah neutrofil.
"Sel-sel ini sebenarnya merupakan bagian dari mekanisme pertahanan tubuh. Masalahnya, ketika inflamasi berlangsung cukup kuat atau terlalu lama, respons tersebut juga dapat ikut merusak jaringan kulit di sekitarnya," ujarnya.
Di dalam proses inflamasi tersebut, tubuh melepaskan berbagai mediator inflamasi dan enzim. Pada kondisi jerawat yang berat dan berkepanjangan, aktivitas enzim tersebut meningkat dan menyebabkan degradasi atau kerusakan terhadap kolagen dan struktur dermis di sekitar lesi jerawat.
"Jadi, sederhananya, kita bisa membayangkan dermis sebagai semacam ‘jaringan penyangga’ kulit yang banyak tersusun dari kolagen. Ketika terjadi peradangan yang dalam, jaringan penyangga ini bisa ikut rusak. Dan kerusakan tersebut tidak selalu terlihat dari permukaan kulit saat prosesnya sedang berlangsung," papar dr. Nadella.
Setelah peradangan mereda, tubuh akan masuk ke tahap penyembuhan dan remodeling. Idealnya, tubuh akan membentuk kembali jaringan yang rusak. Namun pada sebagian orang, proses pembentukan dan remodeling kolagen tidak mampu mengembalikan struktur kulit seperti kondisi awal.
"Kalau terjadi kehilangan jaringan atau kolagen yang cukup banyak, hasil akhirnya dapat berupa cekungan pada permukaan kulit. Inilah yang kemudian kita kenal sebagai atrophic acne scar atau bopeng," tutupnya.
Dari penjelasan dr. Nadela, kita bisa memahami bahwa bopeng bukanlah sekadar akibat dari kebiasaan memencet jerawat, melainkan hasil dari rangkaian proses inflamasi yang dalam, kerusakan kolagen, serta bagaimana tubuh kita melakukan proses penyembuhan. Dengan memahami perbedaan antara bekas kemerahan atau kehitaman dengan scar atrofi yang sesungguhnya, kita menjadi lebih bijak dalam menilai kondisi kulit dan tidak lagi menyamaratakan semua bekas jerawat sebagai bopeng.
Pada akhirnya, pencegahan tetap menjadi langkah terbaik. Menangani jerawat sejak dini, menghindari manipulasi berlebihan, menjaga skin barrier, dan tidak menunda konsultasi ketika jerawat sudah dalam, nyeri, dan sering kambuh adalah investasi jangka panjang untuk kualitas kulit. Perawatan kulit bukan hanya tentang mengejar hasil instan, tetapi tentang menjaga kesehatan jaringan kulit agar tetap kuat dan mampu pulih dengan optimal.
Jika Anda saat ini sedang mengalami jerawat aktif atau sudah mulai melihat adanya perubahan tekstur pada kulit, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional. Penanganan yang tepat dan terukur bersama dokter di klinik terpercaya seperti Carla Skin Clinic Taman Harapan Indah. Di klinik kecantikan di Jakarta Barat dapat membantu mengontrol peradangan, mencegah terbentuknya bopeng baru, serta merencanakan perawatan yang sesuai dengan kebutuhan dan tujuan jangka panjang kulit Anda.
(Hanip/SEO/03102026)
💡 Ingin konsultasi langsung dengan dokter kulit?
Booking konsultasi GRATIS di Carla Skin Clinic!
Booking Sekarang →