Mudah Bopeng atau Tidak? Ini Penjelasan Dokter Soal Faktor Genetik!

Skin & Health ✍️ Beben 📅 09 Oct 2026 ⏱️ 5 menit baca
Mudah Bopeng atau Tidak? Ini Penjelasan Dokter Soal Faktor Genetik!

Mudah Bopeng atau Tidak? Ini Penjelasan Dokter Soal Faktor Genetik!

Dalam hal, faktor genetik memang tidak bisa diubah, tetapi kecepatan dan ketepatan penanganan pada bopeng bisa dikendalikan.

Pernahkah Anda memperhatikan dua orang dengan jerawat yang terlihat sama persis, tapi hasil akhirnya sangat berbeda? Yang satu sembuh mulus tanpa jejak, sementara yang lain justru meninggalkan bopeng yang dalam dan sulit hilang.

Banyak orang langsung menyalahkan kebiasaan memencet jerawat sebagai faktor pemicu atau sumber masalahnya. Padahal, ada faktor yang jauh lebih dalam dan sering kali tidak kita sadari, yaitu faktor genetik dan tipe penyembuhan luka masing-masing individu.

Fenomena ini pun dibenarkan oleh dr. Nadella dari Carla Skin Clinic Taman Harapan Indah. Menurut dokter estetika di klinik kecantikan terbaik Jakarta Barat ini, risiko bopeng memang tidak bisa disamaratakan pada semua orang. Kata dia, hal ini karena ada peran biologis yang turut menentukan.

Dia menyebutnya ada peran genetik dalam respons inflamasi dan pembentukan bopeng, atau disebut juga sebagai faktor genetik penyebab bopeng. Dari sisi genetik, ada orang yang secara biologis memiliki kecenderungan mengalami respons inflamasi yang lebih kuat atau berkepanjangan ketika mengalami jerawat. Artinya, ketika pori tersumbat dan bakteri penyebab jerawat mulai berkembang, sistem imun tubuhnya bereaksi jauh lebih agresif dibandingkan orang lain.

“Respons inflamasi yang lebih berat inilah yang menjadi masalah utama. Peradangan yang berlebihan dapat menyebabkan kerusakan yang lebih besar pada struktur dermis, termasuk kolagen dan matriks ekstraseluler yang berfungsi sebagai penyangga kulit atau kenapa kulit mudah bopeng. Inilah alasan mengapa dua orang dengan jenis jerawat yang terlihat mirip belum tentu menghasilkan bekas yang sama,” ujar dr. Nadella panjang lebar.

Selain respons inflamasi, genetik juga memengaruhi bagaimana tubuh melakukan remodeling kolagen selama proses penyembuhan. Setelah terjadi kerusakan jaringan akibat jerawat, tubuh akan melalui beberapa tahap penyembuhan yang kompleks, mulai dari fase inflamasi, pembentukan jaringan baru, hingga fase remodeling.

Pada fase remodeling inilah jaringan kolagen yang baru terbentuk akan diatur dan disesuaikan kembali agar mendekati struktur semula. Kalau proses ini berjalan dengan baik, kulit bisa kembali rata. Tetapi kalau terjadi kehilangan jaringan yang cukup besar atau proses perbaikannya tidak mampu menggantikan jaringan yang hilang secara optimal, maka akan terjadi atrofi atau kehilangan volume jaringan, yang akhirnya terlihat sebagai bopeng atau atrophic scar.

“Itu sebabnya, memang ada pasien yang secara genetik lebih mudah membentuk scar atrofi. Dua orang bisa mengalami jerawat yang sama-sama meradang, tetapi pada satu orang jerawat sembuh tanpa meninggalkan perubahan tekstur yang berarti, sementara pada orang lain dapat meninggalkan cekungan yang dalam,” kata dia.

Dokter berparas cantik ini merupakan dokter estetika di Carla Skin Clinic Taman Harapan Indah yang memiliki ketertarikan dalam bidang aesthetic medicine, khususnya skin             rejuvenation dan peningkatan kualitas kulit. Dia menyelesaikan pendidikan kedokteran di School of Medicine & Health Sciences, Atma Jaya Catholic University of Indonesia pada tahun 2023 dan memulai praktik sebagai dokter pada tahun yang sama.

Dia menjelaskan tentang dampak keterlambatan penanganan pada jerawat aktif. Pada keterlambatan menangani jerawat, terutama jerawat  yang sedang mengalami inflamasi cukup berat, dapat meningkatkan risiko terbentuknya bopeng permanen. Logikanya sederhana, selama jerawat masih aktif dan meradang, proses yang berpotensi merusak jaringan kulit juga masih terus berlangsung.

“Namun penting untuk diluruskan, bukan berarti setiap jerawat yang tidak segera diobati pasti akan menjadi bopeng. Risiko terbentuknya scar dipengaruhi oleh banyak faktor sebagai penyebab acne scar pada kulit. Yaitu, seperti jenis dan kedalaman jerawat, tingkat inflamasi, lamanya jerawat berlangsung, faktor genetik, serta bagaimana kulit masing-masing orang melakukan proses penyembuhan,” kata dr. Nadella.

Dijelaskan juga apabila jerawatnya masih ringan, misalnya hanya beberapa komedo atau papul kecil yang tidak terlalu meradang, biasanya risikonya terhadap scar jauh lebih rendah. “Yang paling perlu diwaspadai adalah ketika jerawat mulai masuk kategori inflamasi sedang sampai berat, terutama papul dan pustul yang banyak, merah dan nyeri, serta nodul atau kista.”

Dokter berambut panjang ini juga menerangkan pada jenis nodul dan kista ini berada lebih dalam di kulit dan dapat menyebabkan kerusakan jaringan yang lebih signifikan. Jenis jerawat seperti inilah yang memiliki risiko meninggalkan scar paling tinggi atau disebut juga mengapa jerawat meninggalkan bopeng. Sehingga sebaiknya tidak hanya mengandalkan perawatan sendiri atau menunggu sampai jerawat "matang" dengan sendirinya.

Dia menegaskan agar pasien sebaiknya mulai mempertimbangkan konsultasi ke dokter apabila jerawat terus muncul dan tidak menunjukkan perbaikan, semakin sering kambuh di lokasi yang sama, atau hampir selalu meninggalkan bekas setiap kali sembuh. Jadi, bukan hanya jumlah jerawat yang dilihat, tetapi juga pola dan perjalanan jerawatnya dari waktu ke waktu termasuk memperhatikan apakah tipe kulitnya mudah bopeng.

Dengan memahami bahwa faktor genetik berperan besar dalam mudah atau tidaknya seseorang menjadi bopeng seharusnya tidak membuat kita merasa pasrah dan menyerah pada keadaan. Justru sebaliknya, pengetahuan ini harus menjadi alarm penting untuk bertindak lebih cepat dan lebih tepat.

Jika Anda memiliki riwayat keluarga yang mudah bopeng, atau menyadari bahwa setiap jerawat Anda hampir selalu meninggalkan cekungan, maka Anda termasuk dalam kelompok risiko tinggi. Artinya, toleransi Anda untuk menunda penanganan jerawat harus lebih rendah dibandingkan orang lain yang kulitnya tidak mudah bopeng.

Jangan menunggu jerawat menjadi besar, dalam, dan nyeri baru mencari pertolongan. Karena pada fase peradangan aktif itulah kolagen sedang dirusak. Semakin cepat peradangan diredakan secara medis, semakin kecil kerusakan yang terjadi, dan semakin besar peluang kulit untuk melakukan remodeling dengan sempurna.

Pada akhirnya, bopeng adalah hasil pertemuan antara tiga hal: seberapa parah jerawatnya, seberapa cepat ia ditangani, dan bagaimana tubuh secara genetik menyembuhkan luka. Genetik memang tidak bisa kita ubah, tetapi kecepatan dan ketepatan penanganan sepenuhnya ada di tangan kita.

(Hanip/SEO/10102026)

Tags: #bopeng #acne scar #faktor genetik #respons inflamasi #jerawat nodul #jerawat kistik #kolagen #remodeling #pencegahan bopeng #konsultasi dokter kulit #Carla Skin Clinic

Bagikan artikel ini:

⚡ Ingin konsultasi langsung dengan dokter kulit?

Booking konsultasi GRATIS di Carla Skin Clinic!

Booking Sekarang →