Insecure Karena Bekas Jerawat dan Bopeng? Begini Menurut Dokter Untuk Mengatasinya
Standar wajah mulus tanpa cela di media sosial membuat banyak perempuan diam-diam merasa insecure karena bekas jerawat dan bopeng.
Di era filter Instagram dan tren skin goals yang serba mulus, punya bekas jerawat dan bopeng rasanya bisa bikin kepercayaan diri runtuh. Tak hanya soal jerawat aktif, banyak perempuan yang justru lebih insecure karena bekas jerawat yang menetap lama, bahkan setelah jerawatnya sudah sembuh.
Perasaannya relate: enggan difoto tanpa filter, harus pakai makeup tebal ke mana-mana, sampai menghindari ketemu orang banyak. Padahal secara medis, ini sangat umum. Data dermatologi menyebut hampir 80% orang pernah berjerawat dan sekitar 30% di antaranya akan meninggalkan scar atau bopeng karena peradangan dalam yang merusak jaringan kolagen kulit.
Artinya, kamu tidak sendiri dan ini bukan karena kamu tidak menjaga kebersihan. Menurut Dokter Nadela dari Clara Skin Clinic Taman Harapan Indonesia, wajar jika seseorang merasa tidak percaya diri karena bopeng. Pasalnya, wajah adalah bagian tubuh yang paling sering kita lihat dan paling sering dilihat orang lain.
"Pasien dapat melihat wajahnya setiap kali bercermin, saat mengambil foto, melakukan video call, memakai makeup, atau ketika sedang berbicara dengan orang lain. Karena paparan tersebut sangat sering, perhatian terhadap satu bagian yang dianggap bermasalah bisa menjadi semakin besar," jelasnya.
Menariknya, ada gap persepsi yang sering tidak disadari. Pasien mungkin terus fokus pada tekstur dan cekungan bopeng yang kecil, sementara orang lain justru melihat wajah secara keseluruhan dari ekspresi, senyum, dan cara berinteraksi. Namun dokter menegaskan, perbedaan persepsi ini bukan berarti perasaan insecure tersebut tidak valid. Perasaan itu tetap nyata dan perlu dipahami dengan empati.
Kenapa Bopeng Bisa Bikin Siklus Insecure Berkepanjangan?
Acne scar tidak hanya berdampak pada kulit, tapi juga pada kondisi psikologis. Inilah alasan kenapa cara mengatasi insecure akibat acne scar tidak bisa hanya mengandalkan skincare. Dokter Nadela menjelaskan siklus yang sering terjadi: adanya scar membuat pasien merasa berbeda atau kurang percaya diri, kemudian menjadi semakin sering mengecek kondisi wajahnya di kaca.
Semakin sering diperhatikan, kekurangan itu terasa semakin besar. Akhirnya muncul rasa malu, takut dinilai, hingga mulai menghindari situasi sosial seperti difoto, bertemu banyak orang, atau tampil tanpa makeup.
"Lama-kelamaan, wajah bukan lagi hanya bagian tubuh yang dilihat secara normal, tetapi menjadi sesuatu yang terus-menerus dipantau. Pasien dapat menjadi sangat sensitif terhadap pencahayaan, kamera, komentar dari orang lain, maupun foto dari angle tertentu," tambahnya.
Kapan rasa insecure ini perlu diwaspadai? Ketika kekhawatiran terhadap bekas jerawat sudah mengganggu fungsi sehari-hari. Misalnya tidak mau masuk kerja, menolak bertemu teman, tidak mau difoto sama sekali tanpa filter, terus-menerus memakai masker meski tidak diperlukan, atau menghabiskan waktu sangat lama untuk mengecek wajah. Jika sudah di titik ini, dukungan empati jauh lebih dibutuhkan daripada sekadar mengatakan "jangan insecure dong".

Cara Mengatasi Insecure Akibat Acne Scar Menurut Dokter
Menurut Dokter Nadella, ia tidak pernah hanya mengatakan "jangan stres" karena itu terlalu sederhana dan tidak memutus masalahnya. Pendekatan yang lebih realistis adalah memutus siklus dari beberapa sisi.
Pertama, kontrol jerawat aktif terlebih dahulu. Kalau jerawat terus muncul, pasien akan merasa masalah tidak pernah selesai dan scar baru akan terus terbentuk. Kedua, hentikan kebiasaan memencet atau picking. Kebiasaan ini menambah trauma pada kulit dan meningkatkan risiko bopeng permanen.
Ketiga, miliki treatment plan yang jelas dan bertahap. Ia menggunakan konsep 3 goal yang mudah dipahami: goal pertama mengontrol acne, goal kedua memperbaiki scar yang sudah ada, dan goal ketiga mempertahankan hasil melalui skincare dan photoprotection. Dengan begitu, pasien tidak merasa harus memperbaiki semuanya sekaligus.
Keempat, kurangi kebiasaan mirror checking. Tidak perlu mengecek tekstur kulit setiap beberapa menit, karena semakin sering diperhatikan, kekurangan itu justru terasa semakin besar dalam persepsi. Kelima, tetap jalani hidup seperti biasa. Tetap bekerja, bertemu teman, berolahraga, dan melakukan hobi yang disukai.
"Jangan jadikan proses treatment sebagai hukuman untuk diri sendiri. Self-confidence tidak harus menunggu sampai scar hilang dulu," pesannya. Untuk keluarga dan pasangan, hindari komentar seperti "kenapa jerawatnya muncul lagi?" atau "bopengnya kelihatan jelas ya?".
Meski tidak bermaksud jahat, komentar itu justru bisa membuat seseorang semakin tidak percaya diri karena bopeng. Dukungan terbaik adalah memperlakukan mereka secara normal, tetap mengajak beraktivitas, dan tidak menjadikan kondisi kulit sebagai pusat setiap interaksi.
Untuk perbaikan tekstur bopeng, kini pendekatannya tidak hanya di permukaan kulit. Salah satunya melalui pendekatan micro-subcision dan collagen remodeling, yaitu menangani jaringan di bawah kulit yang menarik permukaan ke bawah, lalu merangsang pembentukan kolagen baru.
Tujuannya bukan membuat kulit seolah tidak pernah berjerawat, tapi membuat scar jauh lebih samar sehingga tidak lagi menjadi hal pertama yang terlihat. Pada akhirnya, bopeng memang bagian dari perjalanan kulit, tapi bukan definisi dirimu.
(Galuh/SEO/03102026)
💡 Ingin konsultasi langsung dengan dokter kulit?
Booking konsultasi GRATIS di Carla Skin Clinic!
Booking Sekarang →