Simak Penjelasan Dokter Carla Skin Clinic tentang Penyebab Bopeng Selain Jerawat

Skin & Health ✍️ Beben 📅 31 Oct 2026 ⏱️ 5 menit baca
Simak Penjelasan Dokter Carla Skin Clinic tentang Penyebab Bopeng Selain Jerawat

Simak Penjelasan Dokter Carla Skin Clinic tentang Penyebab Bopeng Selain Jerawat

Pesan pening dari dr. Tiffany sangat jelas: jangan menunggu sampai bopengnya dalam baru diperiksa.

Banyak pasien berpikir bopeng hanya disebabkan oleh jerawat yang meradang. Padahal, menurut dermatologi, peradangan hanyalah pemicu utama. Risiko bopeng menjadi lebih parah justru ditentukan oleh kebiasaan sehari-hari yang sering tidak disadari.

Untuk meluruskan hal ini, berikut penjelasan dr. Tiffany Dwi Yanti dari Carla Skin Clinic. Dokter alumni Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara pada tahun 2011ini menjelaskan tentang faktor apa saja yang secara nyata memperberat risiko bopeng selain peradangan itu sendiri atau disebut juga perawatan jerawat aktif dan bopeng awal.

Selain Peradangan, Ini 4 Faktor yang Memperberat Risiko Bopeng

1. Manipulasi Mekanis: Kebiasaan Memencet Jerawat

Faktor pertama dan paling sering adalah manipulasi mekanis, seperti memencet, menusuk, mengorek, atau mencoba mengeluarkan isi jerawat dengan kuku maupun alat yang tidak steril.

Berdasarkan literasi dalam Journal of American Academy of Dermatology menyebutkan bahwa tekanan mekanis pada jerawat dapat mendorong isi inflamasi lebih dalam ke dermis. Akibatnya, kerusakan kolagen menjadi lebih luas dan risiko terbentuknya scar atrofi meningkat hingga 2 kali lipat.

2. Jerawat Berulang dan Tidak Terkontrol di Area yang Sama

Faktor kedua adalah jerawat yang berulang dan tidak terkontrol. Kalau satu jerawat sembuh tetapi terus muncul jerawat inflamasi baru di area yang sama, kulit mengalami proses inflamasi dan penyembuhan berulang.

Dalam istilah medis disebut repetitive inflammation-healing cycle. Setiap siklus ini meninggalkan jaringan parut mikro. Semakin sering terjadi, semakin besar kehilangan jaringan kolagen permanen.

3. Iritasi Akibat Perawatan yang Terlalu Agresif

Ketiga adalah iritasi kulit akibat perawatan yang terlalu agresif. Misalnya terlalu sering eksfoliasi, menggunakan terlalu banyak bahan aktif sekaligus, atau menggosok wajah terlalu keras.

Menurut dr. Tiffany, dari pemantauan pasiennya di klinik kecantikan terbaik di Jakarta Barat ini, bahwa iritasi tidak sama dengan penyebab utama acne scar. Namun, kerusakan skin barrier dan inflamasi tambahan akibat over-treatment dapat memperburuk kondisi kulit dan mengganggu proses penyembuhan alami. Kulit yang barrier-nya rusak akan lebih sulit meregenerasi kolagen.

4. Faktor Individual: Genetik dan Respons Penyembuhan Luka

Faktor keempat adalah faktor individual, termasuk genetik dan respons penyembuhan luka. Beberapa orang secara genetik memiliki fibroblast yang lebih lambat dalam memproduksi kolagen, sehingga luka jerawat lebih mudah menjadi cekung.

Jadi, risiko scar sebenarnya merupakan hasil interaksi banyak faktor, bukan hanya satu kebiasaan seperti memencet jerawat.

Apakah Letak Jerawat dan Durasi Juga Berpengaruh?

Bisa berpengaruh, tetapi tidak semuanya memiliki bukti yang sama kuat. Yang paling penting tetap kedalaman dan derajat inflamasi jerawat.

Jerawat yang berada lebih dalam, terutama nodul dan kista, memiliki risiko scar yang lebih tinggi dibandingkan komedo atau jerawat superfisial. Untuk lokasi, area seperti pipi sering menjadi tempat scar acne terlihat jelas karena banyak mengalami jerawat inflamasi. Tetapi kita tidak bisa mengatakan bahwa lokasi tertentu secara otomatis pasti akan menjadi bopeng.

Durasi juga penting. Jerawat yang mengalami inflamasi berkepanjangan atau sering kambuh berarti kulit mengalami proses kerusakan dan perbaikan secara berulang.

Sedangkan mengenai paparan, sinar UV bukan penyebab utama terbentuknya acne scar atrofi, tetapi dapat memperburuk perubahan warna setelah jerawat dan membuat bekas jerawat terlihat lebih jelas atau lebih lama bertahan. Karena itu, pasien acne tetap membutuhkan proteksi terhadap sinar matahari, terutama untuk mencegah masalah pigmentasi setelah jerawat atau disebut juga perawatan jerawat aktif.

Bedanya Bekas Warna dan Bopeng

Cara Membedakan Bekas Merah, Hitam, dan Bopeng yang Akan Menetap menjadi bagian paling penting yang sering salah dipahami orang awam. Menurut dr. Tiffany, bekas jerawat tidak semuanya merupakan scar. Dan secara sederhana kita bisa membedakan:

Bekas merah atau kehitaman adalah masalah warna.

Bekas merah setelah jerawat biasanya disebut Post-Inflammatory Erythema (PIE), sedangkan bekas kecokelatan atau kehitaman disebut Post-Inflammatory Hyperpigmentation (PIH). Pada kondisi tersebut, permukaan kulit sebenarnya masih relatif rata. Masalah utamanya adalah perubahan warna. Seiring waktu, warna tersebut dapat memudar dengan perawatan yang tepat.

Bopeng adalah masalah struktur.

Sementara pada scar atrofi, kita mulai melihat atau merasakan perubahan kontur kulit. Misalnya setelah jerawat mengempis, pasien melihat ada bagian kulit yang:

·       Tampak seperti tertarik ke dalam

·       Terlihat cekung ketika terkena cahaya dari samping

·       Tetap tidak rata meskipun kemerahan atau warna hitamnya sudah berkurang

·       Terasa ada perubahan tekstur ketika diraba

Ini merupakan tanda yang lebih mengarah kepada perubahan struktural atau scar atau disebut juga cara mencegah bopeng membesar.

Tetapi perlu hati-hati. Pada fase awal, perubahan tekstur setelah jerawat belum tentu langsung dapat dikategorikan sebagai scar permanen. Dokter perlu melihat apakah terdapat kehilangan jaringan yang nyata, apakah cekungannya menetap, dan jenis scar-nya.

Karena itu, pesan dr. Tiffany sangat jelas: jangan menunggu sampai bopengnya dalam baru diperiksa. Bila setelah inflamasi mereda sudah terlihat perubahan kontur, sebaiknya dievaluasi lebih awal agar penanganan bisa dilakukan sebelum scar menjadi permanen.

Bopeng tidak datang tiba-tiba. Ia adalah akumulasi dari peradangan yang dalam, kebiasaan memencet, jerawat yang berulang, perawatan yang agresif, dan faktor genetik. Dengan memahami pemicu di luar peradangan, Anda bisa mencegah bopeng menjadi lebih dalam.

Di Carla Skin Clinic, evaluasi scar dilakukan dengan analisis struktur kulit, bukan hanya melihat warnanya. Karena setiap jenis bopeng membutuhkan pendekatan yang berbeda.

Jika Anda sudah mulai melihat cekungan halus setelah jerawat kempes, segera konsultasikan ke dokter agar tidak menjadi bopeng permanen.

SEO/HaniP/01112026

Tags: #bopeng #bekas jerawat #atrophic scar #PIE #PIH #memencet jerawat #genetik #Carla Skin Clinic

Bagikan artikel ini:

⚡ Ingin konsultasi langsung dengan dokter kulit?

Booking konsultasi GRATIS di Carla Skin Clinic!

Booking Sekarang →