Journals • Google Docs

Scientific Journal Series #1: SALMON DNA: Memahami Polynucleotide (PN) dan PDRN dalam Regenerative Aesthetic Medicine

02 October 2026

Scientific Journal Series #1: SALMON DNA: Memahami Polynucleotide (PN) dan PDRN dalam Regenerative Aesthetic Medicine

Daftar Isi

    SALMON DNA: Memahami Polynucleotide (PN) dan PDRN dalam Regenerative Aesthetic Medicine

    Carla Skin ClinicScientific Education Series

    Tanggal penelitian: 2 Oktober 2026 Scope: Dermatology, regenerative aesthetics, skin rejuvenation, wound healing, scar remodeling

    Catatan terminologi: Istilah “Salmon DNA” banyak digunakan dalam komunikasi estetika, tetapi bukan satu klasifikasi ilmiah tunggal. Secara ilmiah, produk berbasis DNA salmon dapat mengandung polynucleotide (PN), polydeoxyribonucleotide (PDRN), atau DNA-derived polymers dengan karakteristik molekuler berbeda. Karena itu, komposisi, molecular weight, purification process, formulation, dan indikasi produk perlu diperiksa secara individual.

    Abstract

    Salmon DNA merupakan istilah populer yang digunakan dalam industri aesthetic medicine untuk merujuk pada bahan berbasis DNA yang umumnya berasal dari sumber salmon atau salmon trout dan kemudian diproses menjadi DNA-derived polymers seperti polydeoxyribonucleotide (PDRN) atau polynucleotide (PN). Bahan-bahan tersebut telah diteliti dalam konteks wound healing, tissue regeneration, skin rejuvenation, scar remodeling, dan post-procedure recovery.

    Secara biologis, PDRN memiliki mekanisme yang banyak dikaitkan dengan aktivasi adenosine A2A receptor dan nucleotide salvage pathway, sedangkan PN dengan rantai yang lebih panjang juga dipelajari karena potensinya dalam mendukung extracellular matrix remodeling. Namun, istilah PN dan PDRN masih sering digunakan secara tidak konsisten dalam literatur, sehingga tidak tepat menganggap semua produk “Salmon DNA” memiliki komposisi atau efek klinis yang sama.

    Evidence klinis terbaru menunjukkan adanya potensi untuk meningkatkan parameter skin quality, wrinkle-related outcomes, scar quality, dan wound healing. Namun systematic review terbaru tahun 2026 menekankan bahwa evidence masih dibatasi oleh small sample sizes, heterogeneity of formulations and protocols, serta keterbatasan follow-up jangka panjang.

    Dengan demikian, Salmon DNA/PN/PDRN dapat dipandang sebagai emerging regenerative approach, bukan sebagai satu treatment dengan efek universal atau pengganti seluruh modalitas dermatologis yang telah mapan.

    1. PENDAHULUAN

    Dalam beberapa tahun terakhir, DNA-derived biomaterials semakin mendapat perhatian dalam bidang regenerative medicine dan aesthetic dermatology.

    Salah satu istilah yang populer di masyarakat adalah “Salmon DNA”, terutama untuk treatment yang ditujukan pada skin rejuvenation, skin quality, acne scar, wound healing, dan post-procedure recovery.

    Namun, istilah tersebut dapat menimbulkan kesalahpahaman.

    Salmon DNA bukan berarti DNA utuh yang “ditanamkan” ke dalam kulit untuk mengubah DNA manusia.

    Dalam aplikasi medis, DNA dari sumber biologis tertentu diproses dan dimurnikan menjadi fragmen atau polymer DNA dengan karakteristik tertentu. Salah satu kelompok yang telah lama diteliti adalah PDRN, yang antara lain dapat berasal dari DNA sperma salmon trout (Oncorhynchus mykiss) atau chum salmon (Oncorhynchus keta).

    Di sisi lain, produk estetika yang disebut PN umumnya menggunakan DNA polymers dengan karakteristik molecular weight dan struktur yang berbeda.

    Literatur tahun 2025 bahkan menyoroti bahwa penggunaan istilah PN dan PDRN secara interchangeable masih menjadi masalah terminologi dalam scientific literature.

    Karena itu, memahami apa sebenarnya yang dimaksud dengan Salmon DNA penting bagi dokter, beauty consultant, pasien, dan tim komunikasi klinik agar informasi yang diberikan tetap scientifically accurate.

    2. DEFINISI DAN SCIENTIFIC BACKGROUND

    2.1 Apa itu Salmon DNA?

    Dalam konteks aesthetic medicine, Salmon DNA biasanya merujuk pada DNA-derived biomaterials yang berasal dari salmon atau salmon trout dan telah mengalami proses ekstraksi, pemurnian, fragmentasi/pemrosesan, dan formulasi tertentu.

    Istilah ini lebih tepat dipandang sebagai descriptive/marketing terminology, bukan satu nama farmakologis yang mendefinisikan satu jenis molekul.

    Secara sederhana:

    Salmon DNA ↓ DNA-derived material ↓ diproses & dimurnikan ↓ dapat menghasilkan PDRN / PN / DNA polymers tertentu ↓ digunakan dalam berbagai formulation dan clinical applications.

    PDRN sendiri telah dideskripsikan sebagai polymer deoxyribonucleotide dengan molecular weight yang dapat berada pada rentang luas dan berasal dari DNA salmon trout atau chum salmon melalui proses purification dan sterilization.

    2.2 PN vs PDRN

    Salah satu bagian terpenting dalam memahami Salmon DNA adalah membedakan PN dan PDRN.

    ParameterPDRNPN
    NamaPolydeoxyribonucleotidePolynucleotide
    BasisDNA-derived polymerDNA-derived polymer
    Molecular sizeUmumnya lebih pendekUmumnya lebih panjang
    Biological conceptA2A receptor & nucleotide salvage pathwayTissue/ECM remodeling dan regenerative effects
    Research areaWound healing, tissue regeneration, skin regenerationSkin rejuvenation, skin quality, scar remodeling
    TerminologyRelatif lebih established dalam wound-healing literatureBanyak digunakan dalam aesthetic medicine
    EvidenceTerdapat clinical & preclinical evidenceClinical evidence semakin berkembang
    Main limitationFormulation/protocol heterogeneityEvidence masih relatif baru dan heterogen

    Namun, tidak ada satu batas universal yang secara historis digunakan oleh seluruh literatur.

    Sebuah review tahun 2025 mengusulkan “Marques Polynucleotide Cutoff” sebesar 1,500 kDa sebagai pendekatan nomenklatur: PDRN untuk polymer <1,500 kDa dan PN untuk ≥1,500 kDa. Ini merupakan proposal standardisasi nomenklatur dari review tersebut, bukan universal regulatory definition.

    Istilah ilmiah:

    Molecular weight

    Penjelasan sederhana:

    Panjang dan ukuran polymer DNA dapat memengaruhi sifat fisik, cara formulasi, degradasi, serta kemungkinan fungsi biologisnya.

    Karena itu:

    Tidak semua produk yang disebut “Salmon DNA” dapat dianggap identik.

    3. BIOLOGICAL / PHYSIOLOGICAL MECHANISM

    3.1 Adenosine A2A receptor

    Salah satu mekanisme PDRN yang paling banyak dibahas adalah interaksi dengan adenosine A2A receptor.

    PDRN dapat mengalami proses degradasi menjadi nucleotide/nucleoside components yang kemudian berhubungan dengan jalur adenosine dan salvage pathway. Aktivasi A2A receptor dikaitkan dengan proses tissue repair dan modulasi inflammatory response.

    Istilah ilmiah:

    Adenosine A2A receptor activation

    Penjelasan sederhana:

    Reseptor ini dapat berperan sebagai salah satu “sinyal biologis” yang membantu mengatur respons jaringan terhadap injury dan proses penyembuhan.

    3.2 Nucleotide salvage pathway

    Sel membutuhkan nucleotide untuk berbagai proses biologis, termasuk sintesis DNA dan RNA.

    PDRN dapat menyediakan komponen nucleotide melalui salvage pathway, yaitu jalur daur ulang nucleotide yang memungkinkan sel menggunakan kembali bahan pembentuk nucleotide untuk kebutuhan metabolisme dan perbaikan jaringan.

    Sederhananya:

    DNA-derived polymer → terdegradasi menjadi komponen lebih kecil → dimanfaatkan melalui metabolic pathways → mendukung cellular repair processes.

    3.3 Fibroblast dan extracellular matrix

    Fibroblast merupakan salah satu sel utama dalam dermis yang berperan dalam produksi dan remodeling:

    • collagen
    • elastin-associated structures
    • fibronectin
    • extracellular matrix.

    Literatur PDRN/PN mengaitkan regenerative activity dengan cellular proliferation, migration, angiogenesis, extracellular matrix remodeling, dan tissue repair.

    Namun penting:

    “Mendukung proses yang berhubungan dengan collagen” tidak sama dengan membuktikan bahwa setiap produk Salmon DNA secara klinis akan meningkatkan collagen dalam jumlah tertentu pada setiap pasien.

    Evidence mechanistic dan clinical evidence harus dibedakan.

    3.4 Inflammation dan wound healing

    PDRN juga diteliti dalam konteks inflammatory modulation.

    Review sistematis mengenai PDRN melaporkan bahwa mekanisme yang paling konsisten dibahas adalah A2A receptor activation dan salvage pathway, dengan efek biologis yang berkaitan dengan cell migration, proliferation, angiogenesis, dan tissue repair.

    Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa PDRN/PN mulai dipelajari dalam post-procedure recovery.

    Review tahun 2026 mengenai PDRN dalam aesthetic post-procedure recovery melaporkan adanya human clinical evidence terkait re-epithelialization, erythema, scarring, dan beberapa parameter pemulihan setelah prosedur. Namun penulis juga menekankan keterbatasan jumlah RCT, sample size, formulasi, dan long-term follow-up.

    4. ACTIVE INGREDIENT / TECHNOLOGY COMPONENTS

    Karena “Salmon DNA” bukan satu formulasi standar, tabel berikut menggambarkan kelompok biomaterial, bukan komposisi satu produk tertentu.

    Component / TechnologyScientific FunctionSkin/Tissue TargetPotential Clinical Relevance
    PDRNA2A receptor-related signaling & nucleotide salvageWound/tissue repairWound healing, regeneration
    PNDNA-derived polymer dengan fokus pada tissue/ECM remodelingDermal tissueSkin quality, rejuvenation, scar remodeling
    Nucleotides / degradation productsSubstrat untuk metabolic pathwaysCellular metabolismTissue repair processes
    DNA-derived polymersBiophysical & biological interaction dengan tissueDermal/extracellular environmentRegenerative applications
    HA(jika terdapat dalam formulation tertentu)Hydration, viscoelastic supportDermisSkin hydration/quality

    Penting: keberadaan HA atau ingredient lain tidak dapat diasumsikan pada semua produk Salmon DNA. Komposisi harus merujuk pada official product documentation.

    5. SKIN CONCERN / CLINICAL APPLICATION

    Concern / ConditionRelevant MechanismPotentially Relevant ApproachEvidence
    Skin agingECM remodeling, cellular regenerationPN/PDRN-based treatmentEmerging
    Fine wrinklesDermal remodeling & skin qualityPNEmerging
    Skin textureTissue remodelingPN/PDRNEmerging
    Acne scarScar remodeling / dermal qualityPNEmerging
    Post-procedure recoveryRe-epithelialization, inflammatory modulationPDRN/PNEmerging–moderate
    Wound healingA2A receptor, salvage pathway, repairPDRNRelatively stronger evidence
    PigmentationPossible melanogenesis modulationPDRNPreliminary
    Skin hydrationSkin-quality improvementPN / PN-HA formulationsEmerging

    Systematic reviews terbaru menunjukkan bahwa evidence paling konsisten untuk PDRN berada pada konteks wound healing, sementara evidence aesthetic untuk skin rejuvenation dan scar remodeling masih berkembang.

    6. CLINICAL EVIDENCE

    Study 1 — Systematic Review of PN/PDRN RCTs, 2026

    Author: Ahmed M. Alhussain et al. Year: 2026 Journal:CureusStudy design: Systematic review of randomized clinical trials Studies included: 7 randomized trials Participants: 183 participants Search period: literature through January 2026

    Review ini mengevaluasi randomized trials mengenai PN dan PDRN pada:

    • skin rejuvenation
    • postoperative scar prevention
    • wound healing.

    Empat studi berfokus pada skin rejuvenation, satu pada postoperative scar prevention, dan dua pada wound healing.

    Secara keseluruhan, PN/PDRN dilaporkan memberikan perbaikan pada beberapa wrinkle-related outcomes, scar quality, wound-healing metrics, dan patient-reported satisfaction. Efek yang paling konsisten terlihat pada wound-healing settings.

    Main limitation:

    • small sample sizes
    • heterogeneous protocols
    • variable outcome measures
    • belum cukup evidence untuk menentukan optimal clinical indications.

    Evidence level:Systematic review of RCTs — important but limited by underlying studies.

    PubMed – Alhussain et al., 2026 DOI – 10.7759/cureus.112403

    Study 2 — Global Systematic Review, 2026

    Author: Elizabeth J. Kream et al. Year: 2026 Journal:Dermatologic SurgeryStudy design: Systematic review

    Review ini mengevaluasi perkembangan evidence PN dan PDRN dalam dermatology.

    Penelitian ini penting karena merupakan salah satu review terbaru yang mengevaluasi global trends and evidence dari PN/PDRN therapy.

    DOI: 10.1097/DSS.0000000000005155 PMID: 42283510.

    PubMed – Kream et al., 2026 DOI – Dermatologic Surgery

    Study 3 — Systematic Review in Aesthetic Medicine, 2025

    Author: Lampridou S, Bassett S, Cavallini M, Christopoulos G. Year: 2025 Journal:Journal of Cosmetic DermatologyStudy design: Systematic review Studies included: 9 Total PN-treated patients: 219

    Review ini menemukan bahwa PN injections menunjukkan hasil yang menjanjikan pada:

    • wrinkles
    • skin texture
    • elasticity.

    Namun kualitas penelitian yang masuk dinilai low to moderate, dan terdapat variasi besar dalam injection area serta treatment technique.

    Kesimpulan ilmiah: promising, tetapi belum cukup untuk menetapkan satu protocol universal.

    PubMed – Lampridou et al., 2025 DOI – 10.1111/jocd.16721

    6.1 RCT — Polynucleotide untuk Acne Scar

    Author: Araco A, Araco F. Year: 2021 Journal:Aesthetic Surgery JournalDesign: Prospective randomized double-blind placebo-controlled study Participants: 20 women Population: moderate-to-severe atrophic acne scars

    Sebanyak 10 pasien mendapatkan PN-HPT dan 10 pasien saline sebagai control.

    Pada follow-up 1 dan 3 bulan, kelompok PN-HPT menunjukkan improvement yang signifikan dibanding baseline pada parameter yang dinilai.

    Namun sample size hanya 20 pasien, sehingga hasil tersebut belum cukup untuk menyimpulkan efektivitas universal untuk seluruh tipe acne scar.

    Evidence interpretation:Emerging clinical evidence.

    PubMed – Araco & Araco, 2021 DOI – 10.1093/asj/sjab125

    6.2 RCT — Polynucleotide vs Hyaluronic Acid

    Author: Lee YJ et al. Year: 2022 Journal:Journal of Dermatological TreatmentDesign: Randomized, double-blind, split-face, active-controlled study Participants: 27 subjects

    Setiap pasien mendapatkan PN pada satu sisi area periocular dan non-crosslinked HA pada sisi lainnya.

    Hasil menunjukkan bahwa kedua pendekatan memberikan improvement. Beberapa parameter seperti skin elasticity, hydration, roughness dan pore volume menunjukkan pola improvement yang berbeda, tetapi overall visual assessment tidak berbeda secara signifikan antara kedua kelompok. Tidak terdapat serious adverse events dalam penelitian tersebut.

    Ini merupakan contoh penting bahwa:

    PN tidak seharusnya secara otomatis diklaim “lebih baik” daripada HA.

    Masing-masing memiliki mekanisme dan clinical objectives yang berbeda.

    PubMed – Lee et al., 2022DOI – 10.1080/09546634.2020.1748857

    6.3 Clinical Study — PN untuk Asian Skin

    Author: Lim et al. Year: 2024 Journal:Aesthetic Plastic Surgery / indexed PubMed

    Penelitian mengenai PN-HPT pada Asian skin melaporkan improvement pada beberapa parameter seperti:

    • skin tone evenness
    • skin surface evenness
    • firmness
    • radiance.

    Patient satisfaction juga dilaporkan cukup tinggi dan manfaat masih terlihat hingga follow-up enam bulan.

    Namun, hasil tersebut tetap perlu dipahami dalam konteks produk spesifik dan protocol spesifik yang digunakan dalam penelitian, bukan otomatis berlaku untuk seluruh produk yang diberi label Salmon DNA.

    PubMed – Polynucleotides HPT for Asian Skin Regeneration and Rejuvenation

    6.4 PDRN dan Wound Healing

    Evidence untuk PDRN tidak hanya berasal dari aesthetic medicine.

    Systematic review mengenai PDRN dan tissue regeneration menemukan evidence dari penelitian in vitro, in vivo, dan clinical studies yang mendukung potensi PDRN dalam tissue repair. Mekanisme yang paling sering dibahas adalah A2A receptor activation dan salvage pathway.

    Salah satu placebo-controlled pilot study pada pasien yang menjalani skin explants juga melaporkan peningkatan re-epithelialization pada kelompok PDRN dibanding placebo.

    Dengan demikian, secara historis, wound healing merupakan salah satu area scientific foundation PDRN yang lebih matang dibandingkan klaim aesthetic yang lebih luas.

    6.5 PDRN dan Pigmentation

    Sebuah studi eksperimental dan preliminary clinical study meneliti efek PDRN terhadap melanogenesis.

    Pada model melanocyte dan melanocyte–keratinocyte coculture, PDRN menurunkan beberapa marker yang berhubungan dengan melanogenesis. Studi kecil pada enam pasien juga melaporkan improvement pada hyperpigmented lesions.

    Namun:

    Evidence belum dapat menyatakan:

    “PDRN adalah treatment utama untuk melasma.”

    Evidence tersebut masih terlalu terbatas dan berasal dari model experimental serta clinical sample yang sangat kecil.

    Evidence level:Preliminary / emerging.

    7. WHAT DOES THE EVIDENCE ACTUALLY SAY?

    Evidence menunjukkan:

    • PN/PDRN memiliki biological plausibility untuk regenerative and tissue-repair applications.
    • PDRN memiliki evidence yang relatif lebih established pada wound healing.
    • PN menunjukkan hasil menjanjikan pada beberapa parameter skin quality, wrinkles, elasticity dan texture.
    • Terdapat clinical evidence untuk acne scar remodeling, tetapi jumlah peserta pada RCT masih kecil.
    • PN/PDRN semakin banyak dipelajari untuk post-procedure recovery.

    Evidence belum dapat memastikan:

    • satu produk Salmon DNA pasti bekerja sama dengan produk lainnya;
    • satu molecular weight memiliki efek terbaik untuk semua kondisi;
    • satu injection protocol berlaku untuk semua pasien;
    • PN/PDRN dapat menggantikan laser, energy-based treatment, HA, subcision, atau scar procedures lainnya;
    • PN/PDRN merupakan treatment utama untuk semua pigmentation disorders;
    • hasil jangka panjang pada penggunaan aesthetic sudah benar-benar established.

    Hal yang masih membutuhkan penelitian:

    • larger RCTs
    • standardized formulations
    • standardized molecular-weight classification
    • standardized injection protocols
    • longer follow-up
    • direct head-to-head comparison
    • objective histological assessment
    • comparative cost-effectiveness.

    Systematic review 2026 secara khusus menyoroti small sample size, heterogeneity, dan variable outcome measures sebagai keterbatasan utama evidence saat ini.

    8. COMPARISON

    ParameterPDRNPNHA Skin Booster
    Biological basisDNA-derived polymerDNA-derived polymerHyaluronic acid
    Primary conceptTissue repair / nucleotide signalingTissue/ECM remodelingHydration / viscoelastic support
    A2A pathwayStrongly discussedPotentially involved depending on degradationNot primary mechanism
    Skin rejuvenationEmergingEmergingEstablished for hydration/skin quality depending on formulation
    Wound healingRelatively stronger evidenceEmergingNot primary indication
    Scar remodelingEmergingEmergingDepends on product/clinical context
    HydrationCan improve indirectly/through formulationCan improve skin-quality parametersDirect hydration role
    Evidence uniformityVariableVariableProduct-specific
    Major limitationProtocol/formulation variabilityTerminology & formulation heterogeneityDifferent formulations and indications

    Tidak ada ranking dalam tabel ini.

    Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa treatment harus dinilai berdasarkan clinical objective, bukan sekadar nama bahan.

    9. WHO MAY BENEFIT?

    Secara umum, PN/PDRN-based approaches may be considered pada kondisi yang secara biologis berkaitan dengan:

    • skin quality concerns
    • fine lines/wrinkles
    • dermal quality
    • selected acne scars
    • post-procedure recovery
    • tissue repair
    • selected scar remodeling situations.

    Namun, “may benefit” tidak berarti setiap pasien dengan concern tersebut akan mendapatkan hasil yang sama.

    Faktor yang dapat memengaruhi hasil antara lain:

    • patient age
    • skin condition
    • scar type
    • severity
    • treatment history
    • formulation
    • molecular characteristics
    • injection technique
    • treatment protocol
    • individual biological response.

    10. WHO MAY NOT BE SUITABLE?

    Patient suitability harus ditentukan melalui individual medical assessment.

    Pertimbangan khusus diperlukan pada pasien dengan:

    • active infection
    • active inflammatory skin disease pada area treatment
    • known allergy atau hypersensitivity terhadap komponen produk
    • kondisi medis tertentu
    • pregnancy/breastfeeding considerations
    • penggunaan medication tertentu
    • riwayat abnormal wound healing
    • kondisi yang membutuhkan diagnosis terlebih dahulu.

    Tidak tepat membuat satu daftar contraindication universal untuk semua “Salmon DNA” karena produk dan formulation dapat berbeda.

    Untuk injectable treatment, penilaian juga harus mencakup:

    • product-specific contraindications
    • injection site
    • anatomical considerations
    • practitioner competency
    • sterility
    • patient-specific risk factors.

    11. SIDE EFFECTS & SAFETY

    Dalam clinical literature PN/PDRN aesthetic, adverse effects yang dilaporkan umumnya bersifat mild dan transient, meskipun profil keamanan sangat bergantung pada produk dan prosedur yang digunakan. Systematic review 2025 melaporkan bahwa adverse effects umumnya ringan dan sementara.

    Expected temporary reactions

    Pada injectable procedure, reaksi lokal seperti:

    • redness
    • swelling
    • tenderness
    • injection-site discomfort

    dapat terjadi.

    Adverse events / complications

    Risiko yang lebih serius perlu dipertimbangkan dalam setiap injectable procedure dan tidak boleh dihilangkan hanya karena bahan dianggap “regenerative” atau “natural”.

    Risiko dapat dipengaruhi oleh:

    Product

    • dose
    • injection technique
    • anatomy
    • sterility
    • patient factors.

    Review 2026 mengenai PN/PDRN menekankan bahwa tidak adanya serious adverse events dalam sejumlah studi kecil tidak sama dengan bukti bahwa risiko serius tidak mungkin terjadi. Evidence safety jangka panjang masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

    12. LIMITATIONS OF CURRENT EVIDENCE

    Ini merupakan bagian yang sangat penting untuk interpretasi scientific.

    12.1 Small sample sizes

    Banyak clinical studies melibatkan jumlah pasien yang relatif kecil.

    Contohnya RCT acne scar hanya melibatkan 20 pasien.

    12.2 Heterogeneous products

    Produk PN/PDRN dapat berbeda dalam:

    • molecular weight
    • polymer length
    • concentration
    • purification
    • formulation
    • injection technique.

    Karena itu hasil satu produk tidak otomatis dapat digeneralisasi ke semua produk Salmon DNA.

    12.3 Terminology problem

    PN dan PDRN masih sering digunakan secara interchangeable dalam literature.

    Hal tersebut dapat membuat evidence terlihat lebih konsisten daripada kenyataannya.

    Review 2025 secara khusus mengangkat kebutuhan standardisasi nomenklatur berdasarkan molecular characteristics.

    12.4 Short follow-up

    Sebagian besar penelitian aesthetic masih memiliki follow-up relatif pendek.

    Efek jangka panjang dan maintenance strategy membutuhkan penelitian tambahan.

    12.5 Industry involvement

    Beberapa studi terkait produk tertentu melibatkan researcher, KOL, atau pihak yang memiliki hubungan dengan manufacturer/distributor.

    Contohnya, systematic review 2025 sendiri mencantumkan conflict-of-interest disclosures dari beberapa authors terkait perusahaan PN tertentu, walaupun review tersebut menyatakan manufacturer tidak terlibat dalam risetnya.

    Karena itu, manufacturer claim dan independent clinical evidence harus tetap dipisahkan.

    13. PRACTICAL CLINICAL INTERPRETATION

    Jika concern utama: Skin Aging

    Evidence yang relevan: PN/PDRN memiliki evidence awal yang menunjukkan improvement pada beberapa parameter skin quality, wrinkles, elasticity dan texture.

    Potential approach: PN/PDRN dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari regenerative/skin-quality approach.

    Important consideration: Tidak boleh diposisikan sebagai pengganti seluruh modality untuk skin aging.

    Jika concern utama: Acne Scar

    Evidence yang relevan: Terdapat RCT kecil yang menunjukkan improvement dengan PN-HPT dibanding placebo pada moderate-to-severe atrophic acne scars.

    Potential approach: PN dapat dipertimbangkan sebagai salah satu adjunct/regenerative approach.

    Important consideration: Acne scar memiliki berbagai morphology; treatment selection harus berdasarkan scar type, depth, tethering, dan kondisi kulit.

    Jika concern utama: Post-Procedure Recovery

    Evidence yang relevan: PDRN/PN telah diteliti untuk re-epithelialization, erythema, wound healing, dan scar modulation.

    Potential approach: Dapat dipertimbangkan sebagai adjunct dalam appropriate clinical setting.

    Important consideration: Tidak menggantikan wound care, infection control, atau medical management.

    Jika concern utama: Pigmentation

    Evidence yang relevan: PDRN memiliki preliminary evidence terkait melanogenesis dari experimental studies dan small clinical observations.

    Potential approach: Potentially relevant sebagai adjunct.

    Important consideration: Evidence belum cukup untuk menyimpulkan PDRN sebagai primary treatment untuk melasma atau seluruh pigmentary disorders.

    14. SIMPLE TAKEAWAY

    1. “Salmon DNA” bukan satu molekul atau satu treatment yang seragam.
    2. Istilah tersebut biasanya merujuk pada DNA-derived biomaterials, termasuk PN atau PDRN.
    3. PDRN dan PN memiliki karakteristik molecular dan biological yang dapat berbeda.
    4. PDRN banyak dipelajari dalam konteks wound healing dan tissue regeneration.
    5. PN semakin banyak diteliti dalam aesthetic medicine.
    6. Evidence clinical untuk skin rejuvenation menunjukkan hasil yang menjanjikan tetapi masih heterogen.
    7. Acne scar memiliki beberapa clinical evidence, termasuk RCT kecil.
    8. Evidence untuk pigmentation masih preliminary.
    9. Tidak semua produk Salmon DNA memiliki komposisi, molecular weight, atau evidence yang sama.
    10. Product-specific evidence harus selalu dibedakan dari general evidence mengenai PN/PDRN.
    11. Safety profile dalam studi yang tersedia umumnya baik, tetapi long-term evidence masih terbatas.
    12. Treatment selection harus berdasarkan clinical assessment, bukan hanya nama bahan.

    15. CONCLUSION

    Salmon DNA merupakan istilah populer untuk kelompok DNA-derived biomaterials yang semakin berkembang dalam regenerative aesthetic medicine.

    Scientific literature menunjukkan bahwa PDRN dan PN memiliki biological plausibility serta clinical evidence yang berkembang untuk tissue repair, wound healing, skin rejuvenation, skin quality, dan selected scar applications. Mekanisme yang paling banyak dibahas pada PDRN mencakup adenosine A2A receptor signaling dan nucleotide salvage pathway, sementara PN dengan polymer yang lebih panjang banyak dipelajari dalam konteks extracellular matrix dan tissue remodeling.

    Namun, evidence saat ini belum mendukung anggapan bahwa semua “Salmon DNA” bekerja dengan cara yang sama atau memiliki clinical efficacy yang identik.

    Systematic reviews terbaru pada 2025–2026 menunjukkan bahwa evidence aesthetic masih dibatasi oleh small sample sizes, heterogeneous formulations, treatment protocols, outcome measures, dan keterbatasan long-term follow-up.

    Karena itu, interpretasi yang paling scientifically appropriate adalah:

    PN/PDRN merupakan promising regenerative biomaterials dengan evidence klinis yang terus berkembang, tetapi clinical application harus tetap product-specific, indication-specific, dan patient-specific.

    Dengan pendekatan tersebut, istilah “Salmon DNA” dapat dijelaskan secara lebih akurat tanpa mengubah evidence yang masih berkembang menjadi klaim medis yang terlalu kuat.

    16. REFERENCES

    1. Alhussain AM, et al. (2026)

    Polynucleotides and Polydeoxyribonucleotides for Skin Rejuvenation, Postoperative Scar Prevention, and Wound Healing: A Systematic Review of Randomized Clinical Trials.Cureus. 2026;18(7):e112403.

    PMID 42572627 DOI: 10.7759/cureus.112403

    PubMed DOI

    2. Kream EJ, Anooshiravani N, Hosking AM, Boen M, Fabi SG. (2026)

    Global Trends and Evidence Evaluation: A Systematic Review of Polynucleotide and Polydeoxyribonucleotide Therapy in Dermatology.Dermatologic Surgery. 2026.

    PMID 42283510 DOI: 10.1097/DSS.0000000000005155

    PubMed DOI

    3. Lampridou S, Bassett S, Cavallini M, Christopoulos G. (2025)

    The Effectiveness of Polynucleotides in Esthetic Medicine: A Systematic Review.Journal of Cosmetic Dermatology. 2025;24(2):e16721.

    PMID 39645667 DOI: 10.1111/jocd.16721

    PubMed DOI

    4. Marques C, Porcello A, Cerrano M, et al. (2025)

    From Polydeoxyribonucleotides (PDRNs) to Polynucleotides (PNs): Bridging the Gap Between Scientific Definitions, Molecular Insights, and Clinical Applications of Multifunctional Biomolecules.Biomolecules. 2025;15(1):148.

    PMID 39858543 DOI: 10.3390/biom15010148

    PubMed DOI / Full Text

    5. Galeano M, Pallio G, Irrera N, et al. (2021)

    Polydeoxyribonucleotide: A Promising Biological Platform to Accelerate Impaired Skin Wound Healing.Pharmaceuticals. 2021;14:1103.

    DOI: 10.3390/ph14111103

    PubMedDOI / Full Text

    6. Squadrito F, Bitto A, Irrera N, et al. (2017)

    Pharmacological Activity and Clinical Use of PDRN.Frontiers in Pharmacology. 2017;8:224.

    PMID 28491036 DOI: 10.3389/fphar.2017.00224

    PubMedDOI / Full Text

    7. Araco A, Araco F. (2021)

    Preliminary Prospective and Randomized Study of Highly Purified Polynucleotide vs Placebo in Treatment of Moderate to Severe Acne Scars.Aesthetic Surgery Journal. 2021;41(7):NP866–NP874.

    PMID 33755110 DOI: 10.1093/asj/sjab125

    PubMed DOI

    8. Lee YJ, Kim HT, Lee YJ, et al. (2022)

    Comparison of the Effects of Polynucleotide and Hyaluronic Acid Fillers on Periocular Rejuvenation: A Randomized, Double-Blind, Split-Face Trial.Journal of Dermatological Treatment. 2022;33(1):254–260.

    PMID 32248707 DOI: 10.1080/09546634.2020.1748857

    PubMedDOI

    9. Noh TK, Chung BY, Kim SY, et al. (2016)

    Novel Anti-Melanogenesis Properties of Polydeoxyribonucleotide, a Popular Wound Healing Booster.International Journal of Molecular Sciences. 2016;17(9):1448.

    PMID 27598132 DOI: 10.3390/ijms17091448

    PubMedDOI / Full Text

    10. Lim et al. (2024)

    Polynucleotides HPT for Asian Skin Regeneration and Rejuvenation.

    PubMed

    Sumber Asli

    Google Docs

    Baca di Google Docs

    Butuh Penanganan Langsung?

    Artikel di atas bersifat edukasi umum. Untuk kondisi kulit Anda, konsultasikan dengan dokter kami.

    Booking Konsultasi